Analogi Wirausaha Teknologi (Technopreneur)

Hari ini setelah ngobrol-ngobrol tentang plan kedepan, saya jadi kepiran sebuah analogi tentang lulusan computer science yang akan dibawa kemana..

Ada tiga kemungkinan besar setelah lulus:

  1. Technopreneur (StartUp)
  2. Freelance (Software House)
  3. Pegawai

Analoginya seperti ini, kita dibekali dengan bahan peledak, anggaplah bubuk mesiu, ini adalah analogi modal kita, termasuk skill dan waktu.

Technopreneur, membuat sebuah produk atau mendirikan startup company memiliki resiko yang besar, namun jika berhasil besar pula dampak posifitnya. Saya analogikan ini seperti kita menggunakan mesiu kita untuk meledakkan sebuah gunung dan berharap gunung itu memiliki kandungan emas. Resiko disini adalah jika ternyata perhitungan kita salah, ternyata gunung itu tidak mengandung emas, padahal kita telah menggunakan banyak mesi. Namun, tentu saja resiko itu dapat diminimalkan dengan melakukan penelitian dengan benar. Sebaliknya, jika perhitungan kita benar, maka kita mendapatkan hasil yang sangat memuaskan, tambang emas.

Kedua, freelance, mengerjakan proyek lepas, atau mendirikan software house. Saya analogikan ini seperti menjual petasan. Kita menggunakan mesiu untuk membuat petasan dan menjualnya. Memang hampir pasti petasan tersebut laku, apalagi jika dijual pada saat-saat yang tepat dengan skill negosiasi yang baik, keuntungannya bisa berkali lipat. Kekurangannya adalah kita sangat tergantung pada demand, jika tidak ada permintaan habislah kita, dan satu lagi, semakin banyak pesaing, dengan mudahnya orang masuk kedalam bisnis ini dan membanting harga. Dalam freelance sangat penting untuk menjaga nama baik dan menjalin network yang luas.

Yang terakhir, menjadi pegawai, ini saya analogikan dengan kita menjadi seorang mafia yang bekerja untuk ketua gang, kita gunakan mesiu untuk mengisi pistol kita. Dengan menjalani profesi ini, skill kita akan terasah terus, jam terbang bertambah dan menjadi profesional, penghasilan kita terjamin karena kita dipelihara oleh ketua gang, dan jika kita perform dengan baik, bisa jadi kita menduduki posisi kunci dalam gang tersebut. Namun, sehebat-hebatnya kita, rasanya hampir mustahil kita bisa melampaui atau bahkan sekedar menyamai kesuksesan ketua gang, di sisi lain, kehidupan kita juga seperti berada di tangan ketua gang, dia mau apa kita harus siap melakukan, bahkan bisa saja dia memecat kita kapanpun.

Jadi, mana yang akan kita ambil? Semoga pilihan kita tepat 🙂

Advertisements

Sabar, Sampai Kapan? | Mario Teguh

Kita tidak mungkin bisa menunggu datangnya sesuatu yang tidak kita SEBABKAN kehadirannya.

Kita tidak bisa menunggu kesehatan, yang kita jauhkan dengan kebiasaan buruk.

Kita tidak bisa menunggu uang, dari pekerjaan yang kita malas mengerjakannya, atau yang kalau bisa kita hindari.

Kita tidak bisa menunggu kebahagiaan, dengan cara bicara dan bersikap yang menyalahkan siapa pun kecuali diri sendiri.

Dan kita tidak bisa menunggu kehidupan yang damai, dengan cara melanggar batasan-batasan kebaikan.

Jika yang kita kerjakan jelas, akan jelas jugalah apa yang kita tunggu.

Banyak sekali orang yang kelihatannya sibuk, tetapi yang sebetulnya tidak bekerja.

Ingatlah, bahwa tidak semua kesibukan adalah pekerjaan.

Pekerjaan adalah kesibukan yang menghasilkan keuntungan bagi orang lain, sebagai cara untuk membangun keuntungan bagi diri sendiri.

Kesibukan yang bukan pekerjaan, tidak akan menyediakan sesuatu yang bernilai untuk ditunggu, kecuali penuaan tanpa kemampuan.

Sebetulnya bukan yang kita tunggu – yang datang, kita lah yang datang menemui hadiah bagi kerja keras kita di masa depan.

Kita sampai, hanya karena kita bergerak.

Semua yang kita tunggu itu berada di masa depan, dan tidak mungkin datang menemui kita di hari ini.

Kita lah yang harus menjadi pribadi yang lebih kuat, karena akan ada banyak tutup dari periuk rezeki besar yang harus kita angkat dan buka di masa depan.

Kita lah yang harus menjadi pribadi yang lebih tinggi, karena permata dan mutiara kesejahteraan itu disusun di rak-rak yang lebih tinggi di masa depan.

Kita lah yang harus menepatkan sudut pandang, karena pintu-pintu menuju taman-taman pemuliaan kehidupan di masa depan tidak terlihat dari sikap-sikap yang salah.

Kita lah yang harus membersihkan hati, karena keindahan kehidupan yang bahkan sudah tersedia hari ini, tidak akan dirasakan oleh hati yang belum bersih.

Marilah kita mengambil tanggung-jawab sepenuhnya bagi pemberhasilan diri kita sendiri.

Mungkin hampir tidak ada perasaan yang lebih memerdekakan diri, daripada ketegasan untuk menjadi pemberhasil bagi kehidupan kita sendiri.

Cobalah yang selama ini Anda ragukan, atau akan lebih hebat lagi – lakukanlah yang selama ini Anda takuti.

Orang yang tidak mencoba karena takut gagal, lebih gagal daripada rekannya yang mencoba dan kemudian gagal.

Ujilah keberuntungan Anda. Cobalah melakukan sesuatu dengan lebih berani.

Bukankah sebetulnya,
banyak sekali yang akan Anda lakukan jika Anda lebih berani?

Tuhan Maha Adil. Dan Tuhan telah berjanji akan menyejahterakan dan membahagiakan hamba-Nya yang berupaya.

Tetapi mungkin muncul pertanyaan, …

Bagaimana jika Anda gagal? Coba lagi.
Bagaimana jika Anda masih gagal? Coba lagi.
Bagaimana jika Anda masih terus gagal? Coba lagi.

Eh! … nanti dulu, …
apakah tadi saya menambahkan penjelasan,
bahwa saat Anda mencoba lagi tadi itu,
Anda mencobanya dengan sikap yang lebih baik, dengan cara yang lebih tepat,
dan dengan niat yang lebih tulus?

Maaf ya? …

Mencoba lagi adalah melakukan lagi dengan lebih baik.

Dan bukan hanya sekedar mengulangi tindakan yang sudah jelas-jelas salah, yang tidak menghasilkan, dan yang hanya menjadikandiri kita kesal .

Mencoba lagi adalah melakukan lagi dengan lebih baik.

Maka,

Janganlah kita melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda.

Pribadi yang kuat, membangun nasib; pribadi yang lemah, menunggu keberuntungan.

Apakah engkau sedang menunggu pekerjaan yang lebih baik, sebelum engkau bekerja dengan sungguh-sungguh?

Apakah pekerjaan baik – pantas bagi orang yang tidak bersungguh-sungguh?

Ketahuilah, bahwa …

Sebagian dari kita sedang tidak sabar untuk membangun hasil-hasil yang super dalam pekerjaannya, tetapi sebagian lagi sedang tidak sabar untuk menghindari pekerjaan.

Bersabarlah engkau dalam sikap-sikap yang baik, dalam pergaulan yang baik, dan dalam pekerjaan yang baik.

Bersabarlah untuk hal-hal yang baik.

Dan, …

Rencanakanlah penggunaan dari usiamu.

Dia yang bisa berlaku tenang dalam karir dan kehidupan yang tanpa rencana, tidak bisa disebut sabar.
Dia hanya terbiasa tidak merasa gelisah dalam pelemahan hidupnya.

Tidak ada kesulitan yang lebih kuat daripada kegigihan.

Jiwa yang mengerti, tidak lagi menunggu,
karena ia terlalu sibuk menjadikan dirinya pantas menunggu sebesar-besarnya rezeki,

menunggu seindah-indahnya kebahagiaan,
dan menunggu setinggi-tingginya kemuliaan hidup.

Mudah-mudahan Tuhan mengindahkan waktu yang Anda gunakan untuk menunggu sampainya hadiah-hadiah terbaik bagi kejujuran dan kerja keras Anda.

Sumber: Mario Teguh Golden Point – SABAR, SAMPAI KAPAN?

Jika Seorang Tidak Mau Bekerja, Janganlah Ia Makan.

II Tesalonika

3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
3:11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.
3:12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.
3:13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.
3:14 Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu,
3:15 tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.

GBU