Mount Ijen, Menjangan Island, and Baluran National Park, 10 – 13 Jun 2016

Advertisements

Lessons Learned dari Pendakian Gunung Gede

Sebelumnya saya sudah menulis tentang perjalanan saya ke Gunung Gede pada 24-26 Juni 2016. Kali ini saya mau menulis lagi tentang pendakian tersebut, tentang apa yang saya pelajari selama pendakian.

Pada pendakian Gunung Gede ini saya mendapatkan beberapa pelajaran, inspirasi, insight.

Pertama, tentang visi. Untuk memulai sesuatu kita butuh visi, kita butuh tau arah kemana kita berjalan, apa yang mau kita tuju. Visi ini senantiasa akan memberikan kita harapan dan ukuran, sudah seberapa dekat kita dengan tujuan kita, apakah kita masih on track atau tidak.

Di pendakian ini, tujuan kita adalah Surya Kencana, tempat dimana kita akan berkemah, yang memiliki sumber air bersih, padang yang indah dengan banyak tanaman edelweiss. Sejak awal pendakian kita sudah mengetahui dan sepakat akan hal ini, pula selama perjalanan kita bisa mengetahui kira-kira dimana posisi kita, di pos berapa, dan masih berapa lama menuju ke Surya Kencana. Setiap mencapai suatu pos kita tau bahwa kita berada pada jalur yang tepat dan semakin dekat dengan tujuan kita, hal ini memberikan kita motivasi untuk terus berjalan.

Kedua, tentang fokus pada apa yang ada di depan kita. Selama kita berjalan on track sesuai dengan tujuan yang sudah kita tetapkan, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan rintangan yang ada di depan, lakukan saja, jalani saja satu demi satu, selangkah demi selangkah.

Inspirasi ini saya dapat ketika perjalan mendaki, tidak sanggup rasanya jika kita melihat apa yang ada jauh di depan kita, tanjakan sejauh mata memandang. Baru melihat dan membayangkannya saja sudah lelah. Cara yang saya lakukan adalah dengan fokus pada apa yang ada di depan saya, naiki saja satu per satu, melangkah saja, yang penting ada progress, atur napas, ingat, ini bukan lomba lari 100 meter. Alihkan fokus, jangan biarkan kepala kita diisi “cape, pegal, lemas”, nikmati perjalanannya, nikmati udara segar, nikmati keindahan alam di sekitar, nikmati bercengkrama dan saling support dengan teman, penuhi dengan rasa syukur.

Nasehat serupa sering saya dengar ketika ada pertandingan badminton, pelatih atau komentator di TV sering bilang, “harus sabar, satu-satu”, kalau di badminton ini artinya pemain tidak perlu memikirkan kemenangan atau ketertinggalan dari lawan, fokus saja pada setiap rally, pastikan poin satu demi satu. Kali ini saya merasakan nasehat tersebut berguna juga untuk pendakian.

Tanjakan Gn Gede via Putri

Ketiga, tentang percaya diri dan kerendahan hati. This is true beauty.

Keempat, ini..

Misa Gn. Gede, 26 Jun 2016

Mereka lagi misa di sana. Bener, lagi misa, ada romonya. Dari tenda kami pun terdengar ketika mereka sedang bernyayi. Menurut info dari teman saya, mereka adalah orang-orang yang sedang menempuh pendidikan menjadi imam dari Jakarta. Kagum rasanya melihat kejadian ini.. *goosebumps*

Hal lain yang bisa saya berikan, sebelum mendaki sempatkan diri untuk berlatih cardio (treadmill) 1-2 minggu sebelumnya demi stamina, mendakilah dengan perasaan gembira, jangan ada keraguan, jangan ada ketakutan. Salah satu tujuan kita mendaki adalah untuk mengagumi keindahan karya TUHAN, Ia selalu menyertai kita. Lakukan persiapan dengan matang, jangan menganggap remeh apa yang akan kita hadapi. Positive, be nice, grateful 😀

Pendakian Gunung Gede via Putri, 24 – 26 Juni 2016

Setelah sekian lama berpikir untuk naik gunung Gede, ngajakin temen pada ga mau atau ga bisa, akhirnya tiba juga saatnya.

Berawal dari ajakan temen untuk share cost, tanpa pikir terlalu panjang (masih panjang), saya memutuskan untuk ikut. Di hari-hari terkahir sempat ada keraguan, soalnya cuaca tak kunjung membaik, harusnya masih musim kemarau tapi hujannya heboh-heboh, terbukti Jumat malam di meeting point kita, Untar, banjir.. Tapi keputusan sudah dibuat, lagipula.. Kapan lagi. Let’s Go! 😎

Perjalanan kali ini isinya 13 orang, saya hanya kenal 3 diantaranya, sisanya baru bertemu di trip ini. They’re nice and funny! 😁😁

Perjalanan dimulai Jumat malam, 24 Juni 2016

Sebagian peserta kumpul di Untar untuk berangkat sama-sama ke Terminal Kampung Rambutan (kita ke Cibodas naik bus), sebagian langsung ke terminal. Saya termasuk yang kumpul di Untar. Rencana kumpul jam 20.00, karena hujan, becek, macet, dll rencana tinggal rencana.

Tadinya kirain bakal rame yang kumpul di Untar, ternyata hanya 6 orang. 3 termasuk saya naik Uber, 3 yang lain naik Transjakarta. Langsung nyelup banjir untuk menghampiri Uber yang kita pesan, jalan. Perjalanan ga begitu macet, ke Kampung Rambutan ga ada 1 jam. Menunggu yang lain, menunggu, dan menunggu.. Kira-kira jam 12an malam kita baru full team dan siap berangkat.

Indomaret Kp. Rambutan

Mau naik bus Marita (full AC) yang nyaman tapi ga jadi, kenapa ya.. Akhirnya kita naik bus Doa Ibu, 5 menit pertama masih OK lah, selanjutnya cukup menyiksa. Tanpa AC, angin malam langsung menghajar muka, penumpang full sampai banyak yang berdiri, plus dangdut saweran sepanjang jalan.

Sekitar jam 3 pagi kita sampai di lokasi drop off, sewa angkot, naik ke base camp “Abah”, istirahat.

Sabtu, 25 Juni 2016

Pagi. Dingin mulai terasa. Beberapa orang yang sudah ga tahan, pergi ke warung untuk makan Indomie, beberapa sabar menunggu nasi goreng yang tak kunjung tiba, nasi goreng lada yang membakar tenggorokan ditemani teh manis hangat.

Suasana Pagi Basecamp Putri

Selesai makan, packing ulang, bagi-bagi sleeping bag, matras, dan logistik. Berangkat! Kita rombongan terakhir yang naik pagi itu, karena memang pendakian lagi sepi di bulan puasa ini, dan kita ngaret. Hehe.

Full Team

Pendakian dimulai jam 8an, melewati perkebunan, lalu masuk ke hutan. Saya sudah tidak memperhatikan jam maupun pos-pos yang kami lalui. Tujuan kami adalah Surya Kencana, suatu lembah luas dihiasi oleh tumbuhan edelweiss.

Kira-kira kami sampai di Surya Kencana jam 3 sore, setelah menempuh 6 jam perjalanan melalui track dengan kontur 97.5% tanjakan 💪

This slideshow requires JavaScript.

Sampai di Surya Kencana, kami istirahat sebentar, untuk selanjutnya berjalan lagi ke lokasi dimana kami akan mendirikan tenda di dekat sumber air.

Kemah

Selesai tenda didirikan, beres-beres, ada yang langsung masuk ke tenda dan ga keluar-keluar lagi sampai esok hari 😅

Sisanya masak-masak dan makan malam. Kebetulan saya satu tenda dengan ibu koki, tenda kami hamburan logistik. Hidangan malam ini cukup banyak, ada Ma Ling digoreng dengan telur, sosis*, nasi, mie instan, abon sapi, kremes, perkedel jagung**, dan tidak ketinggalan seduhan jahe dengan gula merah 😋😋

** Perkedel jagung gagal karena salah beli jagung, kita beli jagung creamy

* Sosis Farmhouse sensasional. Sosis ini sukses memperlancar pencernaan 3 orang yang melahapnya. Sebenarnya ada yang curiga dengan rasa sosis ini, “Kok rasanya agak asam ya?”, tapi ada yang dengan penuh keyakinan menjawab “Sosis Farmh*use memang seperi ini, agak asam”. Jadilah sosis itu dimakan sampai habis.

Malam setelah makan, kira-kira pukul 21.00 sebagian besar diantara kami sudah meringkuk di dalam tenda. Saya bersama 2 orang teman lain keluar untuk melihat dan mencoba mengabadikan keindahan bintang-bintang di langit. Angin kencang dan udara super dingin ikut menemai kami.

This slideshow requires JavaScript.

Kembali ke tenda dan mencoba tidur. Tidak nyenyak tidur malam itu, dimulai dari adanya teriakan-teriakan “Dimcil! Dimcil!” yang sukses membangunkan hampir semua orang jam 1 malam, angin dingin yang berhasil masuk ke tenda kami, teman satu tenda yang mual-mual, dan waktu tidur yang terlalu cepat. Biasanya di Jakarta baru tidur jam 12an, di sini mulai tidur jam 9an, jam 4 pagi saya sudah bangun dan ga tau mau ngapain, gelisah sendirian sementara yang lain masih tidur 😐

Ok, akhirnya matahari terbit, teman-teman juga sudah mulai bangun. Kami tidak ada rencana mau lihat sunrise, jadi pagi itu dihabiskan di sekitar / di dalam tenda. Ada yang pergi foto-foto, ada yang masak, dan ada yang nungguin masakannya jadi. Pagi ini kami makan nasi goreng, buncis pocari, dan sarden. Ditemani teh manis hangat dan coklat panas.

Selesai makan, kami naik ke puncak Gede. Lagi-lagi ketemu tanjakan, rasanya semua energi yang didapat dari makan barusan langsung habis.

Puncak Gede Kawah Gede

Perjalanan turun dimulai, dari puncak Gede kami turun ke tenda lagi, beres-beres, minum energen, packing, pungut sampah. Jalan. Kami rombongan terakhir yang turun. Terima kasih alun-alun surken sudah memberi kami tumpangan dan air bersih.

Surya Kencana

Perjalanan turun tidak terlalu berat seperti waktu naik. Perjalanan kami kurang lebih 4 jam, mulai turun jam 2an siang, sampai di pos simaksi sekitar jam 6 sore. Track turun dari pintu Surya Kencana sampai ke pos 3 agak licin karena batu-batu kerikil, selanjutnya sudah enak. Hujan turun saat kami di perjalanan ke pos 3.

Hujan Gn. Gede

Setengah perjalanan turun harus menggunakan senter karena cahaya matahari sudah redup. Sampai di base camp “Abah” kami sudah disambut nasi goreng dan teh manis hangat. Makan, bersih-bersih, ganti baju, bayar ongkos-ongkos. Sebagian dari kami pulang dijemput dengan mobil pribadi, sebagian termasuk saya pulang kembali ke Kp. Rambutan dengan ojek + bus + uber, kali ini kami naik bus Marita, lebih nayaman dengan tarif yang sama, 25.000.

Sekian petualangan kami ke Gunung Gede.
Terima kasih teman-teman, semoga lain kali bisa pergi bareng lagi.
Terima kasih semuanya 🙂

O Lord my God, When I in awesome wonder,
Consider all the worlds Thy Hands have made;
I see the stars, I hear the rolling thunder,
Thy power throughout the universe displayed.

How Great Thou Art.

Selain catatan perjalanan, saya juga menulis tentang pelajaran yang saya dapat dari pendakian kali ini, silahkan dinikmati “Lessons Learned dari Pendakian Gunung Gede“.

Credit: foto para peserta.