Kepulauan Derawan ūüĆä, Surga di Timur Ladang Batu Bara, 13-17 Agustus 2016

Tahun ini saya beberapa kali ikut trip, kalau tahun-tahun sebelumnya hanya 1-2 kali dalam setahun, tahun ini sudah 3 kali, mulai dari Ijen РMenjangan РBaluran, Gunung Gede via Gunung Putri, kali ini Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur, dan sepertinya belum akan berakhir. *Waktu tulisan ini di-post sudah nambah satu lagi, dan sudah terdaftar di satu trip lagi..*

Saya diajak ikut trip ini sudah cukup lama, pada saat itu saya memutuskan untuk tidak ikut, lebih tepatnya karena masih terlalu jauh, saya ga tau pasti apakah bisa ikut atau tidak. Di saat-saat terakhir muncul¬†slot kosong karena ada peserta yang batal ikut, saya diajak lagi, masih ragu, namun akhirnya memutuskan ikut ūüėé

Berau, inilah titik dimana kami akan memulai perjalanan darat dan luat di Kalimantan Timur. Ketika mendengar nama Berau, yang ada di pikiran saya adalah batu bara. Ya, memang ada perusahaan tersohor pengolah batu bara menggunakan nama Berau di sana, Berau Coal Energy (BRAU). Kalimantan Timur sendiri meruapakan salah satu daerah dengan cadangan batu bara terbesar di Indonesia.

Derawan

Satu lagi intro yang mau saya tulis, tentang asal usul nama pulau-pulau di Kepulauan Derawan. Saya tertarik mencari tahu tentang latar belakang nama pulau Derawan dan pulau lainnya ini setelah salah satu teman saya cerita kalau nama pulau-pulau ini ada asal-usulnya. Berikut kutipannya dari Kompas.com

Nama Pulau Derawan sendiri berasal dari sebuah mitos romantis, tidak jelas siapa yang yang pertama kali mengisahkan kisah sedih itu.

‚ÄúDulu, ada dua keluarga yang akan melangsungkan pernikahan di Pulau Panjang,‚ÄĚ kata Rifai mengawali kisah itu.

Di tengah perjalanan yang maha luas mereka bertemu di suatu jalur. Namun tak lama setelah itu, angin kecang dan ombak besar mengombang-ambingkan kapal. ‚ÄúYang di atas kapal ini berteriak-teriak ketakutan,‚ÄĚ katanya lagi.

Ombak yang tinggi dan angin kencang itu akhirnya mendorong kapal-kapal itu ke sebuah karang.

‚ÄúKapalnya pecah, penumpangnya tenggelam. Anak perawan yang mau menikah tadi, akhirnya menjadi Pulau Derawan (perawan), ibunya berubah menjadi Pulau Semama (mama) dan kakaknya berubah menjadi Pulau Kakaban (kakak),‚ÄĚ tuturnya.

Seluruh anggota keluarga itu pun berubah menjadi pulau, termasuk calon mempelai pria yang berubah menjadi Pulau Sangalaki (laki-laki), sementara calon mertua mempelai wanita dalam kisah tadi menjadi Pulau Maratua (Mertua). ‚ÄúTapi itu hanya cerita masyarakat saja, kita tahu pulau itu terbentuk dari peristiwa geologis ribuan atau jutaan tahun lalu,‚ÄĚ kata Rifai mengakhiri cerita itu.

Demikian.

Trip sharecost kali ini dimotori oleh Cynthia. Konon kabarnya sudah disiapkan¬†dari bulan Maret (= 6 bulan sebelum berangkat). Persiapan yang sungguh matang.¬†Maka, paragraf ini didedikasikan untuknya.¬†Thank you¬†ūüôĆūüŹĽ

Trip Derawan - Penginapan Atas Air

Kami berangkat total 21 orang, 21 orang jumlah yang pas = 2 speedboat¬†= 3 mobil. Trip kali ini¬†saya bertemu dengan orang-orang yang unik dan extremely funny. Dari yang bahasanya belum pernah kita dengar sampai yang bisa bernapas dalam air *lebay*. Dan.. sebagian besar dengan¬†totalitas memaknai YOLO (you only live once), contohnya sampai sekarang grup ini¬†belum pernah absen seharipun membahas “next trip”..¬†ūüĎŹ¬†Konsen kerja ga? Haha.

Oke.. Dagingnya akan saya tulis di halaman yang berbeda. Nulis ini harus saya pecah-pecah karena kemungkinan bakal panjang, pula kesempatan untuk nulis lagi ga banyak, jadi selesainya lama banget. Tulisan ini saja sudah saya mulai dari 23 Agustus dan baru publish sekarang. Moga-moga ga keburu lupa.

*Nanti ini bakal saya link ke halaman-halamannya

Trip Derawan – Hari 1 (13 Agustus 2016): Jakarta – Balikpapan – Berau – Derawan ‚ėÄ

Trip Derawan – Hari 2 (14 Agustus 2016):

Trip Derawan – Hari 3 (15 Agustus 2016):

Trip Derawan – Hari 4 (16 Agustus 2016):

Trip Derawan РHari 5 (17 Agustus 2016): Perjalanan Panjang Kembali Ke Jakarta

Indonesia.. ūüėĆ

Photo credits: para peserta.

Palliative Care: What We Can Do To Die Well

Titik akhir yang sama.. Bagaimana dan kapan kita mencapainya yang berbeda. Bagaimana kita bisa membantu orang lain untuk mencapainya dengan suka cita.

Video ini menjelaskan tentang palliative care, metode yang digunakan untuk men-treatment orang yang menderita sakit keras dengan cara yang lebih humanis agar kualitas hidupnya lebih baik.

Instead of membombardir dan fokus pada penyakit, kemoterapi, operasi, dan lainnya. Palliative care lebih membawa pasien untuk memenuhi kebutuhan batinnya, pergi memancing, berkumpul bersama orang-orang terkasih, menjalani perawatan di rumah, dll.

Abe Yang Tak Pernah Menyerah (Abraham Lincoln)

Abe yang Tak Pernah MenyerahAbraham Lincoln, tentu bukan nama yang asing di telinga kita. Abraham Lincoln adalah Presiden Amerika Serikat ke-16 yang memiliki peran besar dalam sejarah negeri “Paman Sam” bahkan sejarah dunia secara keseluruhan. Abraham Lincoln berperan penting dalam berakhirnya perang saudara, memperjuangkan persamaan hak, dan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat. Namun, akhir hidupnya sungguh tragis, ia dibunuh saat masih menjabat sebagai Presiden.

Abe terlahir pada 12 Febuari 1809 dari sebuah keluarga sederhana di Kentucky. Ia lahir dengan perawakan yang kecil dan kurus, lebih kecil dari kakak perempuannya saat dilahirkan tiga tahun yang lalu. Ayahnya, Thomas Lincoln, adalah seorang petani. Selama hidupnya mereka terpaksa beberapa kali pindah negara bagian demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Abe memiliki kecerdasan yang tinggi. Pada usia tiga tahun ia senang mendengarkan cerita hikayat dan cerita dari Kitab Suci yang dibacakan ibunya. Abe pun dapat mengerti pesan-pesan moral dari cerita-cerita tersebut. Bahkan seringkali ia ingin membaca sendiri buku-buku tersebut walaupun ia belum bisa membaca.

Didikan dan pengajaran dari orang tuanya membentuk karakter Abe menjadi kuat dan mandiri. Sejak kecilpun ia sudah memiliki tekad untuk menjadi presiden.

“Kata ayahku setiap orang pasti pandai, kata ibuku siapa yang ingin pandai harus rajin dan tidak boleh cepat putus asa!”

Suatu ketika ayah Abe memutuskan untuk pindah keluar Kentucky, tepatnya ke Indiana. Keputusan yang berat bagi Abe dan keluarganya. Kentucky adalah tempat yang memiliki banyak kenangan bagi mereka. Tanah itu diperjuangkan oleh kakek dan saudara-saudara ayah Abe dengan pertumpahan darah, namun kini harus mereka tinggalkan.

Di Indiana Abe mengalami masa yang sulit. Dimulai dari berita kematian paman dan bibinya akibat penyakit menular di Kentucky, ibunya yang tiba-tiba jatuh sakit hingga meninggal, dan ditinggal ayahnya kembali ke Kentucky.

Kesulitan itu dapat dihadapinya sampai ayahnya kembali dengan seorang ibu baru dan tiga orang sudara untuknya. Sejak saat itu kehidupan Abe mulai membaik, ibu barunya sama baiknya dengan ibunya yang telah meninggal. Abe kini memiliki waktu untuk belajar dan bersekolah.

Ia sangat antusias dalam belajar. Di sekolah Abe selalu datang paling awal walaupun rumahnya paling jauh, ia lebih dulu memperlajari bahan yang akan diajarkan esok hari. Sayangnya, seperti anak miskin lainnya, Abe harus berhenti sekolah untuk bekerja membantu ayahnya. Namun, semangat belajar Abe tidak pernah surut, ia selalu membawa buku untuk dihafal.

Setelah 14 tahun tinggal di Indiana, Thomas Lincoln membawa pindah keluarganya ke Illinois karena mereka tidak ada kemajuan selama tinggal di Indiana.

Abe muda sering menyusuri sungai Mississippi dengan rakit bersama sahabatnya sampai ke New Orleans. Di New Orleans lah hatinya mulai tergerak melihat budak-budak kulit hitam diperlakukan dengan buruk. Tumbuh tekad dalam hatinya untuk memperjuangkan kebebasan.

Ketika hampir genap berusia 20 tahun, Abe memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya, tidak lagi menjadi tanggungan keluarganya dan menjalani kehidupannya sendiri. Ia mulai hidup mandiri dan mencari pekerjaan. Tujuannya adalah New Salem.

Di sana Abe selalu memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang ia jalani. Ia pun memiliki kepribadian yang menyenangkan, kuat, jujur, ramah, dan humoris sehingga orang-orang senang berada bersama Abe. Seluruh New Salem mengenalnya.

Teman-teman Abe mendorongnya untuk ikut dalam pemilihan calon anggota Pembuat Undang-Undang tahun 1833. Namun Abe gagal karena tidak banyak yang mengenalnya di luar New Salem. Ia sempat mencoba mendirikan kedai bersama sahabatnya namun gagal. Kemudia bekerja serabutan, bekerja sebagai pegawai kantor pos, hingga bekerja sebagai pengukur tanah. Setahun kemudian ia mencoba lagi masuk sebagai anggota Lembaga Pembuat Undang-Undang dan kali ini berhasil.

November 1842, Abe menikah dengan Marry Todd, anak seorang pengusaha bank. Pertemuan mereka terjadi di Springfield pada suatu acara dansa. Hubungan mereka sempat mendapat tentangan dari keluarga Marry. Namun Marry yang keras kepala tetap memutuskan untuk bertunangan dengan Abe, dan ia berjanji akan menjadikan suaminya seorang Presiden Amerika Serikat. Mereka dikaruniai dua orang anak, Bobby dan Eddie.

Setelah masa jabatannya sebagai Senator habis, Abe menjalani karirnya sebagai pengacara selama 9 tahun dengan berbagai prestasi. Sejak itu perjalanan karir Abe terus meningkat. Hingga pada 1860 Abe terpilih sebagai calon Presiden dari Partai Republican, dan dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat ke-16 pada 4 Maret 1861. Ini semua tidak lepas dari peran istrinya, Marry Todd, yang terus mendorong dan menjaga semangat Abe.

Terpilihnya Abe membuat banyak orang tidak percaya. Mereka mengatakan, pengcara dari daerah terpencil tidak pantas menjadi Presiden, masih ada calon lain yang lebih pantas. Sejak itu banyak pihak yang ingin membunuh Abe, namun ia tidak perduli dan tetap tenang menjalani tugasnya.

Tak lama setelah Abe dilantik, perang saudara terjadi, perang timbul karena soal perbudakan, pihak Utara (Amerika Serikat) yang ingin menghapuskan perbudakan dengan pihak Selatan ingin mempertahankan perbudakan. Terjadi beberapa kali peperangan yang melibatkan ratusan ribu pasukan.

Ia menyudahi peperangan tersebut dengan sebuah teks proklamasi,

“Sejak tanggal 1 Januari 1863, semua perbudakan di negara bagian yang sedang berperang dengan Amerika Serikat akan dihapuskan, kecuali di negara bagian yang tetap setia pada Amerika Serikat. Sampai tanggal di atas, negara-negara pemberontak boleh kembali ke dalam Serikat jika masih ingin memiliki budak-budak. Jika tidak, budak-budak mereka akan menjadi bebas sejak tanggal dan bulan di atas, serta bebas untuk selama-lamanya…”

Dua tahun kemudian, budak-budak di negara bagian lain pun dibebaskan. Bendera Stars and Stripes berkibar dimana-mana. Hari ini menjadi hari yang amat bahagia bagi Abe, perang saudara telah usai, perbudakanpun telah dihapus, 14 April 1865.

Namun tidak ada yang menyangka, sehari kemudian, 15 April 1865 adalah hari terakhir bagi Abraham Lincoln, ia ditembak dan meninggal saat melihat teater di Ford’s Theatre.


Tulisan ini saya buat untuk ikut kontes di Storial.co, di sana udah saya post beberapa hari yang lalu. Jadi awalnya saya lagi browsing, terus ngeliat iklan ada kontes menulis (review buku), karena kebetulan deadlinenya masih panjang dan saya juga lagi pengen nulis, maka saya memutuskan untuk ikutan.

Buku yang direview harus dibaca dari Qbaca.com terbitan Balai Pustaka. Saya baru tau ada web Qbaca dari kontes ini, bagus juga loh, bukunya banyak, ada yang gratis ada yang berbayar, supportnya juga responsif. Kok tau supportnya responsif? Jadi begini.. Setelah memutuskan untuk ikutan kontes saya cari-cari buku yang mau saya baca di Qbaca, saya memutuskan beli buku ini (Abe yang Tak Pernah Menyerah), abis saya beli ternyata bukunya masih belum bisa dibaca, muncul pesan error apa gitu, saya udah lupa. Lalu saya coba hubungi Qbaca via email, dalam beberapa hari dan beberapa kali balasan yang ramah, sudah berhasil diperbaiki.

Saya sudah bisa baca bukunya, baca.. baca… ternyata buku ini¬†ditujukan untuk anak-anak, dan isinya ga begitu panjang. Susah juga menulis review 1000 kata dari buku iniūüėõ

Kenapa saya pilih buku ini? Karena buku terbitan Balai Pustaka cukup banyak di Qbaca, saya hanya sanggup lihat sekilas-sekilas, lalu saya buka beberapa halaman paling belakang dari daftar buku yang tersedia, saya lihat ada buku ini, maka terpilihlah “Abe yang Tak Pernah Menyerah”ūüėÄūüėÄ Selian itu karena saya memang suka bacaan yang model-model begini, biasanya lebih realistis dan banyak pelajaran yang bisa kita dapat.

Akhirnya, semoga tulisan ini bisa¬†bermanfaatūüôā

Lessons Learned dari Pendakian Gunung Gede

Sebelumnya saya sudah menulis tentang perjalanan saya ke Gunung Gede pada 24-26 Juni 2016. Kali ini saya mau menulis lagi tentang pendakian tersebut, tentang apa yang saya pelajari selama pendakian.

Pada pendakian Gunung Gede ini saya mendapatkan beberapa pelajaran, inspirasi, insight.

Pertama, tentang visi. Untuk memulai sesuatu kita butuh visi, kita butuh tau arah kemana kita berjalan, apa yang mau kita tuju. Visi ini senantiasa akan memberikan kita harapan dan ukuran, sudah seberapa dekat kita dengan tujuan kita, apakah kita masih on track atau tidak.

Di pendakian ini, tujuan kita adalah Surya Kencana, tempat dimana kita akan berkemah, yang memiliki sumber air bersih, padang yang indah dengan banyak tanaman edelweiss. Sejak awal pendakian kita sudah mengetahui dan sepakat akan hal ini, pula selama perjalanan kita bisa mengetahui kira-kira dimana posisi kita, di pos berapa, dan masih berapa lama menuju ke Surya Kencana. Setiap mencapai suatu pos kita tau bahwa kita berada pada jalur yang tepat dan semakin dekat dengan tujuan kita, hal ini memberikan kita motivasi untuk terus berjalan.

Kedua, tentang fokus pada apa yang ada di depan kita. Selama kita berjalan on track sesuai dengan tujuan yang sudah kita tetapkan, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan rintangan yang ada di depan, lakukan saja, jalani saja satu demi satu, selangkah demi selangkah.

Inspirasi ini saya dapat ketika¬†perjalan mendaki, tidak sanggup¬†rasanya jika kita melihat apa yang ada jauh di depan kita, tanjakan¬†sejauh mata memandang. Baru melihat dan membayangkannya saja sudah lelah. Cara¬†yang saya lakukan adalah dengan fokus pada apa yang ada di depan saya, naiki saja satu per satu, melangkah saja, yang penting ada progress, atur napas, ingat, ini bukan lomba lari¬†100 meter. Alihkan fokus, jangan biarkan kepala kita¬†diisi¬†“cape, pegal, lemas”, nikmati perjalanannya, nikmati udara¬†segar, nikmati keindahan alam di sekitar, nikmati bercengkrama dan saling support dengan teman, penuhi dengan rasa syukur.

Nasehat serupa sering saya dengar ketika ada pertandingan badminton, pelatih atau komentator di TV sering bilang, “harus¬†sabar, satu-satu”, kalau di badminton ini artinya pemain tidak perlu memikirkan kemenangan atau ketertinggalan dari lawan, fokus saja pada setiap rally, pastikan¬†poin satu demi satu.¬†Kali ini saya merasakan nasehat tersebut berguna juga untuk pendakian.

Tanjakan Gn Gede via Putri

Ketiga, tentang percaya diri dan kerendahan hati. This is true beauty.

Keempat, ini..

Misa Gn. Gede, 26 Jun 2016

Mereka lagi misa di sana. Bener, lagi misa, ada romonya. Dari tenda kami pun terdengar ketika mereka sedang bernyayi. Menurut info dari teman saya, mereka adalah orang-orang yang sedang menempuh pendidikan menjadi imam dari Jakarta. Kagum rasanya melihat kejadian ini.. *goosebumps*

Hal¬†lain yang bisa saya berikan, sebelum mendaki sempatkan diri untuk berlatih cardio (treadmill) 1-2 minggu sebelumnya demi stamina, mendakilah dengan perasaan gembira, jangan ada keraguan, jangan ada ketakutan.¬†Salah satu tujuan kita mendaki adalah untuk mengagumi keindahan karya TUHAN, Ia selalu menyertai kita. Lakukan persiapan dengan matang, jangan menganggap remeh apa yang akan kita hadapi. Positive, be nice,¬†gratefulūüėÄ

Pendakian Gunung Gede via Putri, 24 – 26 Juni 2016

Setelah sekian lama berpikir untuk naik gunung Gede, ngajakin temen pada ga mau atau ga bisa, akhirnya tiba juga saatnya.

Berawal dari¬†ajakan¬†temen untuk share cost, tanpa pikir terlalu panjang (masih¬†panjang), saya¬†memutuskan untuk ikut. Di hari-hari terkahir sempat ada keraguan, soalnya cuaca tak kunjung membaik, harusnya masih musim kemarau tapi hujannya heboh-heboh, terbukti Jumat malam di meeting point kita, Untar, banjir.. Tapi keputusan sudah dibuat, lagipula.. Kapan lagi. Let’s Go! ūüėé

Perjalanan kali ini isinya 13 orang, saya hanya kenal 3¬†diantaranya, sisanya baru bertemu di trip ini.¬†They’re nice and funny! ūüėĀūüėĀ

Perjalanan dimulai Jumat malam, 24 Juni 2016

Sebagian peserta kumpul di Untar untuk berangkat sama-sama ke Terminal Kampung Rambutan (kita ke Cibodas naik bus), sebagian langsung ke terminal. Saya termasuk yang kumpul di Untar. Rencana kumpul jam 20.00, karena hujan, becek, macet, dll rencana tinggal rencana.

Tadinya kirain bakal rame yang kumpul di Untar, ternyata hanya 6 orang. 3 termasuk saya naik Uber, 3 yang lain naik Transjakarta. Langsung nyelup banjir untuk menghampiri Uber yang kita pesan, jalan. Perjalanan ga begitu macet, ke Kampung Rambutan ga ada 1 jam. Menunggu yang lain, menunggu, dan menunggu.. Kira-kira jam 12an malam kita baru full team dan siap berangkat.

Indomaret Kp. Rambutan

Mau naik bus Marita (full AC) yang nyaman tapi ga jadi, kenapa ya.. Akhirnya kita naik bus Doa Ibu, 5 menit pertama masih OK lah, selanjutnya cukup menyiksa. Tanpa AC, angin malam langsung menghajar muka, penumpang full sampai banyak yang berdiri, plus dangdut saweran sepanjang jalan.

Sekitar jam 3 pagi kita sampai di lokasi drop off, sewa angkot, naik ke base camp “Abah”, istirahat.

Sabtu, 25 Juni 2016

Pagi. Dingin mulai terasa. Beberapa orang yang sudah ga tahan, pergi ke warung untuk makan Indomie, beberapa sabar menunggu nasi goreng yang tak kunjung tiba, nasi goreng lada yang membakar tenggorokan ditemani teh manis hangat.

Suasana Pagi Basecamp Putri

Selesai makan, packing ulang, bagi-bagi sleeping bag, matras, dan logistik. Berangkat! Kita rombongan terakhir yang naik pagi itu, karena memang pendakian lagi sepi di bulan puasa ini, dan kita ngaret. Hehe.

Full Team

Pendakian dimulai jam 8an, melewati perkebunan, lalu masuk ke hutan. Saya sudah tidak memperhatikan jam maupun pos-pos yang kami lalui. Tujuan kami adalah Surya Kencana, suatu lembah luas dihiasi oleh tumbuhan edelweiss.

Kira-kira kami sampai di Surya Kencana¬†jam 3 sore, setelah¬†menempuh 6¬†jam perjalanan melalui track dengan kontur 97.5% tanjakan ūüí™

This slideshow requires JavaScript.

Sampai di Surya Kencana, kami istirahat sebentar, untuk selanjutnya berjalan lagi ke lokasi dimana kami akan mendirikan tenda di dekat sumber air.

Kemah

Selesai tenda didirikan, beres-beres, ada yang langsung masuk ke tenda dan ga keluar-keluar lagi sampai esok hari ūüėÖ

Sisanya masak-masak dan makan malam. Kebetulan saya satu tenda dengan ibu koki, tenda kami hamburan logistik. Hidangan¬†malam ini¬†cukup banyak, ada Ma Ling digoreng dengan telur, sosis*, nasi, mie instan, abon sapi, kremes, perkedel jagung**, dan tidak ketinggalan seduhan jahe dengan gula merah ūüėčūüėč

** Perkedel jagung gagal karena salah beli jagung, kita beli jagung creamy

* Sosis Farmhouse sensasional. Sosis ini sukses memperlancar¬†pencernaan 3 orang yang melahapnya. Sebenarnya ada yang curiga dengan rasa sosis ini, “Kok rasanya agak asam ya?”, tapi¬†ada yang dengan penuh keyakinan menjawab “Sosis Farmh*use memang seperi ini, agak asam”.¬†Jadilah sosis itu dimakan sampai habis.

Malam setelah makan, kira-kira pukul 21.00 sebagian besar diantara kami sudah meringkuk di dalam tenda. Saya bersama 2 orang teman lain keluar untuk melihat dan mencoba mengabadikan keindahan bintang-bintang di langit. Angin kencang dan udara super dingin ikut menemai kami.

This slideshow requires JavaScript.

Kembali ke tenda dan mencoba tidur.¬†Tidak nyenyak tidur malam itu, dimulai dari adanya teriakan-teriakan “Dimcil! Dimcil!” yang¬†sukses membangunkan hampir semua orang jam 1 malam, angin dingin yang berhasil masuk ke tenda kami, teman satu tenda yang mual-mual, dan waktu¬†tidur yang terlalu cepat. Biasanya di Jakarta baru tidur jam 12an, di sini mulai tidur jam 9an, jam 4 pagi saya sudah bangun dan ga tau mau ngapain, gelisah sendirian sementara yang lain masih tidurūüėź

Ok, akhirnya matahari terbit, teman-teman juga sudah mulai bangun. Kami tidak ada rencana mau lihat sunrise, jadi pagi itu dihabiskan di sekitar / di dalam tenda. Ada yang pergi foto-foto, ada yang masak, dan ada yang nungguin masakannya jadi. Pagi ini kami makan nasi goreng, buncis pocari, dan sarden. Ditemani teh manis hangat dan coklat panas.

Selesai makan, kami naik ke puncak Gede. Lagi-lagi ketemu tanjakan, rasanya semua energi yang didapat dari makan barusan langsung habis.

Puncak Gede Kawah Gede

Perjalanan turun dimulai, dari puncak Gede kami turun ke tenda lagi, beres-beres, minum energen, packing, pungut sampah. Jalan. Kami rombongan terakhir yang turun. Terima kasih alun-alun surken sudah memberi kami tumpangan dan air bersih.

Surya Kencana

Perjalanan turun tidak terlalu berat seperti waktu naik. Perjalanan kami kurang lebih 4 jam, mulai turun jam 2an siang, sampai di pos simaksi sekitar jam 6 sore. Track turun dari pintu Surya Kencana sampai ke pos 3 agak licin karena batu-batu kerikil, selanjutnya sudah enak. Hujan turun saat kami di perjalanan ke pos 3.

Hujan Gn. Gede

Setengah perjalanan turun harus menggunakan senter karena cahaya matahari sudah redup. Sampai di base camp “Abah” kami sudah disambut nasi goreng dan teh manis hangat. Makan, bersih-bersih, ganti baju,¬†bayar ongkos-ongkos. Sebagian dari kami pulang¬†dijemput dengan mobil pribadi, sebagian termasuk saya pulang kembali ke Kp. Rambutan dengan ojek + bus + uber, kali ini kami naik bus Marita, lebih nayaman dengan tarif yang sama, 25.000.

Sekian petualangan kami ke Gunung Gede.
Terima kasih teman-teman, semoga lain kali bisa pergi bareng lagi.
Terima kasih semuanyaūüôā

O Lord my God, When I in awesome wonder,
Consider all the worlds Thy Hands have made;
I see the stars, I hear the rolling thunder,
Thy power throughout the universe displayed.

How Great Thou Art.

Selain catatan perjalanan, saya juga menulis tentang pelajaran yang saya dapat dari pendakian kali ini, silahkan dinikmati “Lessons Learned dari Pendakian Gunung Gede“.

Credit: foto para peserta.