Blooming Orchid

I bought a plant once.

It was an orchid, my favorite flower. When I bought the plant from the shop, it hadn’t blossomed yet. The plant was vulnerable and I knew it. I was keen on having it blossom so I took deep care of it. Watered the plant every day in the morning as it said on the leaflet. Added vitamins to the soil. Put the plant enough time in the sun. But just enough, not too long, not too little. It took time before the orchid blossomed but I was patient.

I was excited when the first signs of an orchid started blooming. The orchid was beautiful, healthy, colorful. It lighted up my living room.

But then life happened. I had no more time for my orchid. I took my orchid’s beauty into granted, after all, it was always going to be there sitting in my living room. I forgot it in the sun all day. I sometimes left it in the shade for too long. I stopped watering it on time and randomly watered it when I remembered. I wasn’t careful enough to notice that the orchid was getting weaker ever day.

One day, I came back from work and noticed that the once beautiful pink petals have all fallen off. I panicked. It hit me that my orchid might not be there anymore. I watered it and watered it some more. I put it out in the sun and started giving it more time as I did in the beginning.

But alas, it was too late. The orchid was there lifeless and nothing I did would bring it back. My living room was left dull without all the colors the orchid once brought. I painfully threw the plant away.

Relationships are just like that. They are constant work-in-progress. You can’t care at the beginning and then take the person into granted when they start to bloom for you. You can’t forget about them and expect them to give you everything in return. You can’t realize one day that you are losing their love and start giving them the attention they deserve.

Love is fragile, love is beautiful, but love is easily lost.

by Rand Gerges, PhD

Advertisements

Characteristics of Highly Emotionally Intelligent People

Emotionally Intelligent

  1. Not Creepy but Not Meek – People with high EQ’s go for what they want socially without being creepy. This is because they commit to a social action and follow through. Usually what makes an act creepy is when we reach out to touch someone but get self conscious midway through.
  2. “I Understand Where You’re Coming From” – People with high emotional intelligence are constantly validating other people’s point of view. Many times when we get into a disagreement with someone, it’s important to validate their position. This generally makes people more willing to compromise.
  3. They Know how to Make People Feel Important – Whether it’s remembering small details about their family or getting excited when they walk into a room, people with high EQ’s know how to make the people around them feel important and appreciated.
  4. They Know How to Joke – Knowing what joke to say at what time is a huge indicator of emotional intelligence. They know what jokes are appropriate, what jokes will make what people laugh, and how far they can take a joke without hurting someone’s feelings.
  5. Embrace and Smile – The people with the highest EQ know how to embrace you, and how to smile. Both of these things will help you feel at ease around them.
  6. They Know What Fights are Worth Fighting – You’ve probably had an argument with someone and thought to yourself midway through the argument “Why did I even bring this up?” People with high EQ know when to when engage in an argument and when to walk away.
  7. Thank You – The people I know with the highest eq are constantly saying thank you no matter how small the favor. This shows an awareness to the fact that people are going out of their way to help you.
  8. Have No Problem Saying Sorry When They Are Wrong – The people I know with the lowest EQ have a hard time saying sorry.
  9. They are Able to Argue Constructively – Whenever I am arguing with someone with high EQ, they are able to distill what we are actually arguing about in a matter of seconds. This helps us stay on topic and get a clearer insight into what the other person wants.

Source: Quora

Terang dan Cermin

Alkitab memberikan kita pengajaran tentang bagaimana kita harus menjadi terang, di sisi lain harus memperlakukan orang lain seperti cermin.

Apa maksudnya terang, apa maksudnya cermin?

Aturan perjanjian lama menjadikan manusia sebagi cermin, kita kenal hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi” pada perjanjian lama. Jika kita diperlakukan dengan tidak baik, maka sebagai cermin, kita berhak berlaku tidak baik pula (membalas) pada orang tersebut. Kita hanya memantulkan perilaku orang lain terhadap diri kita.

Apabila seseorang menyebabkan orang lain cedera, apa sahaja yang sudah dilakukannya harus dilakukan juga terhadap dia. Jika dia mematahkan tulang orang lain, tulangnya juga mesti dipatahkan. Jika dia membutakan satu belah mata orang lain, maka satu belah matanya juga mesti dibutakan. Jika dia mematahkan satu biji gigi orang lain, maka satu biji giginya juga mesti dipatahkan. Apa sahaja yang dilakukannya sehingga orang lain cedera, mesti juga dilakukan terhadap dia sebagai pembalasan. Sesiapa yang membunuh binatang mesti mengganti binatang itu, tetapi sesiapa yang membunuh orang mesti dihukum mati.

– Imamat 24: 19-21

Aturan tersebut telah dipatahkan dengan perjanjian baru, dimana kita diajarkan untuk memberikan kasih, tidak memantulkan, melainkan menjadi sumber. Sumber kebaikan, sumber terang.

Sumber terang tidak memantulkan apa yang orang lain perbuat kepadanya, melainkan secara konsisten memberikan terang bagi sekelilingnya, apapun yang terjadi, betapapun gelap sekelilingnya, tidak menjadikan terang itu gelap.

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

– Matius 5:38-39

Di sisi lain, kita harus memperlakukan orang lain sebagai cermin agar kita dapat menjaga perilaku kita. Kita harus beranggapan bahwa orang lain akan mencerminkan apa yang kita perbuat terhadap mereka. Bagaimana kita harus menghormati orang lain, memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan dan menghormati diri kita sendiri. Kita kenal aturan ini sebagai hukum cermin / timbal balik / tabur tuai.

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

– Matius 7:12

Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

– Matius 7:2

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

– Lukas 6:38

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan refleksi dan mengingatkan kita tentang bagaimana kita harus bersikap dan memperlakukan orang lain.

Dan, yang terakhir

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

– Kolose 3:23

Tentu kita tidak akan berbuat hal yang buruk, mengecewakan atau mempermainkan Tuhan.

God bless.

Kepulauan Derawan 🌊, Surga di Timur Ladang Batu Bara, 13-17 Agustus 2016

Tahun ini saya beberapa kali ikut trip, kalau tahun-tahun sebelumnya hanya 1-2 kali dalam setahun, tahun ini sudah 3 kali, mulai dari Ijen – Menjangan – Baluran, Gunung Gede via Gunung Putri, kali ini Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur, dan sepertinya belum akan berakhir. *Waktu tulisan ini di-post sudah nambah satu lagi, dan sudah terdaftar di satu trip lagi..*

Saya diajak ikut trip ini sudah cukup lama, pada saat itu saya memutuskan untuk tidak ikut, lebih tepatnya karena masih terlalu jauh, saya ga tau pasti apakah bisa ikut atau tidak. Di saat-saat terakhir muncul slot kosong karena ada peserta yang batal ikut, saya diajak lagi, masih ragu, namun akhirnya memutuskan ikut 😎

Berau, inilah titik dimana kami akan memulai perjalanan darat dan luat di Kalimantan Timur. Ketika mendengar nama Berau, yang ada di pikiran saya adalah batu bara. Ya, memang ada perusahaan tersohor pengolah batu bara menggunakan nama Berau di sana, Berau Coal Energy (BRAU). Kalimantan Timur sendiri meruapakan salah satu daerah dengan cadangan batu bara terbesar di Indonesia.

Derawan

Satu lagi intro yang mau saya tulis, tentang asal usul nama pulau-pulau di Kepulauan Derawan. Saya tertarik mencari tahu tentang latar belakang nama pulau Derawan dan pulau lainnya ini setelah salah satu teman saya cerita kalau nama pulau-pulau ini ada asal-usulnya. Berikut kutipannya dari Kompas.com

Nama Pulau Derawan sendiri berasal dari sebuah mitos romantis, tidak jelas siapa yang yang pertama kali mengisahkan kisah sedih itu.

“Dulu, ada dua keluarga yang akan melangsungkan pernikahan di Pulau Panjang,” kata Rifai mengawali kisah itu.

Di tengah perjalanan yang maha luas mereka bertemu di suatu jalur. Namun tak lama setelah itu, angin kecang dan ombak besar mengombang-ambingkan kapal. “Yang di atas kapal ini berteriak-teriak ketakutan,” katanya lagi.

Ombak yang tinggi dan angin kencang itu akhirnya mendorong kapal-kapal itu ke sebuah karang.

“Kapalnya pecah, penumpangnya tenggelam. Anak perawan yang mau menikah tadi, akhirnya menjadi Pulau Derawan (perawan), ibunya berubah menjadi Pulau Semama (mama) dan kakaknya berubah menjadi Pulau Kakaban (kakak),” tuturnya.

Seluruh anggota keluarga itu pun berubah menjadi pulau, termasuk calon mempelai pria yang berubah menjadi Pulau Sangalaki (laki-laki), sementara calon mertua mempelai wanita dalam kisah tadi menjadi Pulau Maratua (Mertua). “Tapi itu hanya cerita masyarakat saja, kita tahu pulau itu terbentuk dari peristiwa geologis ribuan atau jutaan tahun lalu,” kata Rifai mengakhiri cerita itu.

Demikian.

Trip sharecost kali ini dimotori oleh Cynthia. Konon kabarnya sudah disiapkan dari bulan Maret (= 6 bulan sebelum berangkat). Persiapan yang sungguh matang. Maka, paragraf ini didedikasikan untuknya. Thank you 🙌🏻

Trip Derawan - Penginapan Atas Air

Kami berangkat total 21 orang, 21 orang jumlah yang pas = 2 speedboat = 3 mobil. Trip kali ini saya bertemu dengan orang-orang yang unik dan extremely funny. Dari yang bahasanya belum pernah kita dengar sampai yang bisa bernapas dalam air *lebay*. Dan.. sebagian besar dengan totalitas memaknai YOLO (you only live once), contohnya sampai sekarang grup ini belum pernah absen seharipun membahas “next trip”.. 👏 Konsen kerja ga? Haha.

Oke.. Dagingnya akan saya tulis di halaman yang berbeda. Nulis ini harus saya pecah-pecah karena kemungkinan bakal panjang, pula kesempatan untuk nulis lagi ga banyak, jadi selesainya lama banget. Tulisan ini saja sudah saya mulai dari 23 Agustus dan baru publish sekarang. Moga-moga ga keburu lupa.

*Nanti ini bakal saya link ke halaman-halamannya

Trip Derawan – Hari 1 (13 Agustus 2016): Jakarta – Balikpapan – Berau – Derawan ☀

Trip Derawan – Hari 2 (14 Agustus 2016):

Trip Derawan – Hari 3 (15 Agustus 2016):

Trip Derawan – Hari 4 (16 Agustus 2016):

Trip Derawan – Hari 5 (17 Agustus 2016): Perjalanan Panjang Kembali Ke Jakarta

Indonesia.. 😌

Photo credits: para peserta.

Palliative Care: What We Can Do To Die Well

Titik akhir yang sama.. Bagaimana dan kapan kita mencapainya yang berbeda. Bagaimana kita bisa membantu orang lain untuk mencapainya dengan suka cita.

Video ini menjelaskan tentang palliative care, metode yang digunakan untuk men-treatment orang yang menderita sakit keras dengan cara yang lebih humanis agar kualitas hidupnya lebih baik.

Instead of membombardir dan fokus pada penyakit, kemoterapi, operasi, dan lainnya. Palliative care lebih membawa pasien untuk memenuhi kebutuhan batinnya, pergi memancing, berkumpul bersama orang-orang terkasih, menjalani perawatan di rumah, dll.

Abe Yang Tak Pernah Menyerah (Abraham Lincoln)

Abe yang Tak Pernah MenyerahAbraham Lincoln, tentu bukan nama yang asing di telinga kita. Abraham Lincoln adalah Presiden Amerika Serikat ke-16 yang memiliki peran besar dalam sejarah negeri “Paman Sam” bahkan sejarah dunia secara keseluruhan. Abraham Lincoln berperan penting dalam berakhirnya perang saudara, memperjuangkan persamaan hak, dan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat. Namun, akhir hidupnya sungguh tragis, ia dibunuh saat masih menjabat sebagai Presiden.

Abe terlahir pada 12 Febuari 1809 dari sebuah keluarga sederhana di Kentucky. Ia lahir dengan perawakan yang kecil dan kurus, lebih kecil dari kakak perempuannya saat dilahirkan tiga tahun yang lalu. Ayahnya, Thomas Lincoln, adalah seorang petani. Selama hidupnya mereka terpaksa beberapa kali pindah negara bagian demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Abe memiliki kecerdasan yang tinggi. Pada usia tiga tahun ia senang mendengarkan cerita hikayat dan cerita dari Kitab Suci yang dibacakan ibunya. Abe pun dapat mengerti pesan-pesan moral dari cerita-cerita tersebut. Bahkan seringkali ia ingin membaca sendiri buku-buku tersebut walaupun ia belum bisa membaca.

Didikan dan pengajaran dari orang tuanya membentuk karakter Abe menjadi kuat dan mandiri. Sejak kecilpun ia sudah memiliki tekad untuk menjadi presiden.

“Kata ayahku setiap orang pasti pandai, kata ibuku siapa yang ingin pandai harus rajin dan tidak boleh cepat putus asa!”

Suatu ketika ayah Abe memutuskan untuk pindah keluar Kentucky, tepatnya ke Indiana. Keputusan yang berat bagi Abe dan keluarganya. Kentucky adalah tempat yang memiliki banyak kenangan bagi mereka. Tanah itu diperjuangkan oleh kakek dan saudara-saudara ayah Abe dengan pertumpahan darah, namun kini harus mereka tinggalkan.

Di Indiana Abe mengalami masa yang sulit. Dimulai dari berita kematian paman dan bibinya akibat penyakit menular di Kentucky, ibunya yang tiba-tiba jatuh sakit hingga meninggal, dan ditinggal ayahnya kembali ke Kentucky.

Kesulitan itu dapat dihadapinya sampai ayahnya kembali dengan seorang ibu baru dan tiga orang sudara untuknya. Sejak saat itu kehidupan Abe mulai membaik, ibu barunya sama baiknya dengan ibunya yang telah meninggal. Abe kini memiliki waktu untuk belajar dan bersekolah.

Ia sangat antusias dalam belajar. Di sekolah Abe selalu datang paling awal walaupun rumahnya paling jauh, ia lebih dulu memperlajari bahan yang akan diajarkan esok hari. Sayangnya, seperti anak miskin lainnya, Abe harus berhenti sekolah untuk bekerja membantu ayahnya. Namun, semangat belajar Abe tidak pernah surut, ia selalu membawa buku untuk dihafal.

Setelah 14 tahun tinggal di Indiana, Thomas Lincoln membawa pindah keluarganya ke Illinois karena mereka tidak ada kemajuan selama tinggal di Indiana.

Abe muda sering menyusuri sungai Mississippi dengan rakit bersama sahabatnya sampai ke New Orleans. Di New Orleans lah hatinya mulai tergerak melihat budak-budak kulit hitam diperlakukan dengan buruk. Tumbuh tekad dalam hatinya untuk memperjuangkan kebebasan.

Ketika hampir genap berusia 20 tahun, Abe memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya, tidak lagi menjadi tanggungan keluarganya dan menjalani kehidupannya sendiri. Ia mulai hidup mandiri dan mencari pekerjaan. Tujuannya adalah New Salem.

Di sana Abe selalu memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang ia jalani. Ia pun memiliki kepribadian yang menyenangkan, kuat, jujur, ramah, dan humoris sehingga orang-orang senang berada bersama Abe. Seluruh New Salem mengenalnya.

Teman-teman Abe mendorongnya untuk ikut dalam pemilihan calon anggota Pembuat Undang-Undang tahun 1833. Namun Abe gagal karena tidak banyak yang mengenalnya di luar New Salem. Ia sempat mencoba mendirikan kedai bersama sahabatnya namun gagal. Kemudia bekerja serabutan, bekerja sebagai pegawai kantor pos, hingga bekerja sebagai pengukur tanah. Setahun kemudian ia mencoba lagi masuk sebagai anggota Lembaga Pembuat Undang-Undang dan kali ini berhasil.

November 1842, Abe menikah dengan Marry Todd, anak seorang pengusaha bank. Pertemuan mereka terjadi di Springfield pada suatu acara dansa. Hubungan mereka sempat mendapat tentangan dari keluarga Marry. Namun Marry yang keras kepala tetap memutuskan untuk bertunangan dengan Abe, dan ia berjanji akan menjadikan suaminya seorang Presiden Amerika Serikat. Mereka dikaruniai dua orang anak, Bobby dan Eddie.

Setelah masa jabatannya sebagai Senator habis, Abe menjalani karirnya sebagai pengacara selama 9 tahun dengan berbagai prestasi. Sejak itu perjalanan karir Abe terus meningkat. Hingga pada 1860 Abe terpilih sebagai calon Presiden dari Partai Republican, dan dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat ke-16 pada 4 Maret 1861. Ini semua tidak lepas dari peran istrinya, Marry Todd, yang terus mendorong dan menjaga semangat Abe.

Terpilihnya Abe membuat banyak orang tidak percaya. Mereka mengatakan, pengcara dari daerah terpencil tidak pantas menjadi Presiden, masih ada calon lain yang lebih pantas. Sejak itu banyak pihak yang ingin membunuh Abe, namun ia tidak perduli dan tetap tenang menjalani tugasnya.

Tak lama setelah Abe dilantik, perang saudara terjadi, perang timbul karena soal perbudakan, pihak Utara (Amerika Serikat) yang ingin menghapuskan perbudakan dengan pihak Selatan ingin mempertahankan perbudakan. Terjadi beberapa kali peperangan yang melibatkan ratusan ribu pasukan.

Ia menyudahi peperangan tersebut dengan sebuah teks proklamasi,

“Sejak tanggal 1 Januari 1863, semua perbudakan di negara bagian yang sedang berperang dengan Amerika Serikat akan dihapuskan, kecuali di negara bagian yang tetap setia pada Amerika Serikat. Sampai tanggal di atas, negara-negara pemberontak boleh kembali ke dalam Serikat jika masih ingin memiliki budak-budak. Jika tidak, budak-budak mereka akan menjadi bebas sejak tanggal dan bulan di atas, serta bebas untuk selama-lamanya…”

Dua tahun kemudian, budak-budak di negara bagian lain pun dibebaskan. Bendera Stars and Stripes berkibar dimana-mana. Hari ini menjadi hari yang amat bahagia bagi Abe, perang saudara telah usai, perbudakanpun telah dihapus, 14 April 1865.

Namun tidak ada yang menyangka, sehari kemudian, 15 April 1865 adalah hari terakhir bagi Abraham Lincoln, ia ditembak dan meninggal saat melihat teater di Ford’s Theatre.


Tulisan ini saya buat untuk ikut kontes di Storial.co, di sana udah saya post beberapa hari yang lalu. Jadi awalnya saya lagi browsing, terus ngeliat iklan ada kontes menulis (review buku), karena kebetulan deadlinenya masih panjang dan saya juga lagi pengen nulis, maka saya memutuskan untuk ikutan.

Buku yang direview harus dibaca dari Qbaca.com terbitan Balai Pustaka. Saya baru tau ada web Qbaca dari kontes ini, bagus juga loh, bukunya banyak, ada yang gratis ada yang berbayar, supportnya juga responsif. Kok tau supportnya responsif? Jadi begini.. Setelah memutuskan untuk ikutan kontes saya cari-cari buku yang mau saya baca di Qbaca, saya memutuskan beli buku ini (Abe yang Tak Pernah Menyerah), abis saya beli ternyata bukunya masih belum bisa dibaca, muncul pesan error apa gitu, saya udah lupa. Lalu saya coba hubungi Qbaca via email, dalam beberapa hari dan beberapa kali balasan yang ramah, sudah berhasil diperbaiki.

Saya sudah bisa baca bukunya, baca.. baca… ternyata buku ini ditujukan untuk anak-anak, dan isinya ga begitu panjang. Susah juga menulis review 1000 kata dari buku ini 😛

Kenapa saya pilih buku ini? Karena buku terbitan Balai Pustaka cukup banyak di Qbaca, saya hanya sanggup lihat sekilas-sekilas, lalu saya buka beberapa halaman paling belakang dari daftar buku yang tersedia, saya lihat ada buku ini, maka terpilihlah “Abe yang Tak Pernah Menyerah” 😀 😀 Selian itu karena saya memang suka bacaan yang model-model begini, biasanya lebih realistis dan banyak pelajaran yang bisa kita dapat.

Akhirnya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat 🙂