Family, Friends, and Community Keeps You Healthy & Happy

Studi selama 75 tahun mendapatkan fakta bahwa apa yang membuat manusia hidup sehat, hidup lebih lama, dan bahagia adalah kualitas hubungan dengan sesama. Uang, kekayaan, kerja keras, pencapaian, pangkat, individualisme sering dianggap sebagai jalan menuju kebahagiaan, itu hanyalah quick fix, karena membangun hubungan yang berkualitas membutuhkan waktu dan perjuangan.

Advertisements

Pohon di Tepi Aliran Air

Mazmur 1 : 1 – 3

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Keluarga (Ber)bahagia

Hari ini gw ngeliat dua keluarga yang meunurut gw keluarga berbahagia.

Lalu, kenapa gw tulis “(Ber)bahagia”? Karena bahagia adalah sebuah pilihan. Gw pernah denger sebuah kutipan “Decided to be happy”. Dari sana jelas, mau bahagia atau ngga, itu keputusan kita. So, kita yang harus aktif, bukan kebahagiaan datang begitu saja. Kita bisa bahagia kalau kita tau jalan yang benar, dan tau cara bersyukur. Seorang anak orang kaya yang selalu makan enak, ketika diberi makan nasi goreng setiap pagi, akan mengeluh. Tapi anak seorang miskin yang untuk makan saja sulit, akan sangat bersyukur ketika bisa makan nasi goreng setiap pagi.

Lanjut ke dua keluarga berbahagia tadi,, yang pertama gw ketemu di gereja.
Keluarga ini sering bahkan hampir selalu gw liat setiap minggu, soalnya di gereja udah ada tempat-tempat kebiasaan, gw biasa duduk di sayap kanan, depan tembok, nah si keluarga ini biasa 2 atau 3 bari di depan gw. Ini keluarga isinya satu bapa, satu ibu, dua anak cowo, sama satu anak cewe.

Gw pernah kenal sama si bapa dari keluarga itu, jadi dulu gw pernah dateng agak telat dari biasa gw dateng, jadi tempat gw udah ada yang dudukin, alhasil gw duduk lebih depan sedikit, sebelah gw kosong tadinya, dan si keluarga ini yang menempati. Gw ngobrol sama di bapa, dan sedikit sama si ibu, mereka bener-bener ramah, dan ya.. beda lah dengan ngobrol sama orang lain yang baru kenal. Oya, si bapa ini ternayata lulusan Binus jaman dulu, waktu masih STMIK atau ATK gitu, lupa..

Secara biasa mereka duduk di depan gw, mau ga mau gw sering ngeliat mereka. Mereka bener-bener punya hubungan yang harmonis, gw aja yang ngeliat seneng, apalagi mereka ya.. Diberkatilah keluarga ini 🙂 Mereka sering bercanda-bercanda kecil, ya walaupun di gereja sih, tp gpp lah, ga membuat keributan juga. Orangtua seperti sahabat buat anak-anaknya, anak-anaknya akbrab. Semoga keluarga gw nanti bisa lebih baik dari keluarga ini. Heheh.

Nah, yang kedua, pasangan suami istri yang barusan gw dateng ke pesta intan perkawinannya (60 tahun). Wah, yang ini bener-bener deh, si bapa senyum terus, bahagia sekali sepertinya. Dia cerita, “Dulu tinggal di desa, ga ada listrik, ga ada ledeng, kalau mandi, cuci muka ke sungai. Kenalan sama istrinya dari orangtua, dijodohin, 3 bulan setelah kenal langsung nikah, ga ada pacaran-pacaran. Dulu saya kerja jualan barang ke pedalaman, naik perahu, bisa 10 hari sekali pergi, kalau udah malam, numpang di desa orang, tidur pake alas tilam(tikar). Terus waktu istri saya mau melahirkan, di sana ga ada bidan, jadi harus ke daerah lain, sewa perahu, dayung berdua, sekitar 4 jam baru sampai, waktu itu masih muda, ga ada pengalaman, ga mikir gimana kalau anaknya sampai lahir di perahu. Orang sekarang udah enak, ada rumah sakit dekat, masih aja kalau melahirkan maunya di Singapur.. Hahah.”

Continue reading

Senyum -> Bahagia atau Bahagia -> Senyum?

Hari ini ga ada kuliah.. Tapi gw tetep dateng ke Binus, ke ATL, soalnya masih utang jam, sekalian terus berusaha mengerti store procedure dan kodingan-kodingan lainnya. Hmm.. Kira-kira 5,5 jam gw di sana, dari jam 11.30 sampai 17.00.

Gw pulang naik 91, dan tumben-tumbennya hari ini ada seniman jalanan yang menurut gw cukup ramah. Dia nyanyi pake gitar, kalo gw nilai sih dia emang niat nyanyi, suaranya cukup bagus (Ga kaya yang biasanya, nyanyi hanya sekedar formalitas, jadi suaranya ga gitu enak, cuma supaya ga dianggap minta-minta mungkin). Abis itu ada orang yang ngasih uang dan dia senyum sambil bilang “makasih kak”, tergeraklah gw, jadi ikut ngasih juga. Hehe.

Tips buat seniman jalanan: Jadilah seniman yang seperti itu, berniat, dan ramah. Jadi mau ngasih juga seneng dan iklas. Bukan yang nyanyi hanya sekedar formalitas, atau bahkan dengan nada-nada mengancam, kami(gw) sama sekali ga tergerak untuk orang-orang seperti itu.

Nah abis itu gw lanjut naik bajaj, eh ternyata tukang bajajnya juga baik hari ini, pas gw bayar dia senyum dan bilang “makasih” duluan. Biasanya mah tukang bajajnya tanpa ekspresi dan ga bales kalo gw bilang makasih. Haha.

Akhirnya waktu gw mau nulis ini, gw jadi mikir, sebenernya senyum akan menimbulkan kebahagiaan atau kebahagiaan bisa memunculkan senyum?

Continue reading