Kualitas Udara Jakarta Buruk

https://i2.wp.com/www.carbonoffset.org/images/air_pollution/air_pollution_250x251.jpgPencemaran udara di Indonesia, khususnya Jakarta, telah mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demikian dikatakan Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Lingkungan Yetti Rusli.

“Pencemaran paling berat terjadi di Jakarta dibandingkan dengan Tokyo, Beijing, Seoul, Taipei, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Manila,” katanya.

Seminar dan temu wartawan itu bertema “Inisiatif dan respons Indonesia terhadap Fenomena Perubahan Iklim Global” yang diselenggarakan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Berdasarkan data yang ada, total estimasi polutan CO yang diestimasikan dari seluruh aktivitas di Kota Jakarta adalah 686,864 ton per tahun atau 48,6 persen dari jumlah emisi lima polutan.

Penyebab dari pencemaran udara di Jakarta sekitar 80 persen berasal dari sektor transportasi dan 20 persen dari industri serta limbah domestik. Sementara, emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi hutan sebesar 20 persen.

“Kawasan hutan yang lebat dengan pepohonan dapat berperan sebagai obat untuk mengurangi emisi karbon (CO2) karena akan menyerap karbon sekitar 50 persen dari biomasa pohon,” kata dia.

Sumber: KCM

Jakarta Rawan Perubahan Iklim

Jakarta.jpgDaerah Khusus Ibu Kota Jakarta menempati peringkat pertama sebagai daerah yang rentan perubahan iklim se-Asia Tenggara berdasarkan survei Economy and Environment Program for Southeast Asia (EEPSEA).

Direktur EEPSEA Herminia Fransisco dalam seminar “Peta Kerentanan Perubahan Iklim Asia Tenggara: Perpektif Indonesia” di Jakarta, Kamis (7/5), mengatakan, data tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan selama enam bulan dengan mengambil sampel sebanyak 530 daerah di Asia Tenggara.

“Wilayah Jakarta sangat rentan terhadap bencana dengan yang terkait perubahan iklim, salah satunya akibat dari tingginya angka kepadatan penduduk,” kata Herminia.

Bencana perubahan iklim tersebut dicontohkannya, seperti banjir, kekeringan, meningkatnya permukaan, dan tanah longsor.

Dalam data tersebut disebutkan, setiap kenaikan air laut setinggi 1 meter sama dengan merendam daerah berpenduduk 10.763.734 jiwa.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar dalam kesempatan itu mengimbau, masyarakat hendaknya peduli atas kondisi kepadatan penduduk yang menjadi salah satu penyebab kerentanan perubahan iklim.

“Kepedulian masyarakat dalam mengatasi kerentanan perubahan iklim, khususnya masalah kepadatan penduduk, dapat dilakukan dengan hanya menjadikan Jakarta kota transit saja, bukan sebagai kota tempat tinggal,” katanya.

Sumber: KCM

Jakarta Tenggelam?

https://i2.wp.com/gerbang.jabar.go.id/kotabekasi/images/data/banjir.jpgJakarta sudah kebanjiran lebih dari satu bulan! Khususnya daerah Muara Baru, Jakarta Utara.

Banjir yang sudah terjadi lebih dari satu bulan ini telah menyebabkan berbagai keadaan buruk di Jakarta dan sekitarnya. Nelayan yang berjualan di daerah Muara Baru kehilangan omset lebih dari 70%. Atau masih ingatkah kita banjir yang terjadi di jalanan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, hal itu telah mengganggu penerbangan, dan juga pastinya memunculkan citra buruk bagi Indonesia, apa kata turis asing yang datang ke Indonesia dan saat sampai bukannya melihat sesuatu yang baik dari Indonesia malah disambut dengan banjir?
Continue reading