Four Simple Ways to Create More and Worry Less

Studio Mothers: Life & Art

Sometimes creative angst gets the better of us. How often do you find yourself thinking “I don’t have enough time,” or “My work’s not good enough,” or “I’ll never reach my creative goals”? Here are four simple ways to avoid those minefields and stay focused on what really matters: your creative work.

1. Turn rejection into affirmation. With practice, you can reframe rejection so that it actually affirms your creativity, rather than causes injury. Here’s how. Simply put, you can’t get rejected if you haven’t had the courage to send your work out into the world. And you can’t send your work out into the world if you haven’t reached a level of completion and polish that makes you believe your work has legs. And your work can’t have legs if you haven’t put yourself at your desk or easel or studio bench and actually done the work, for however…

View original post 829 more words

Advertisements

Stress Less, Write More

Kristen Lamb's Blog

Writers are no strangers to stress. Many of us work full-time day jobs and write, or we balance a family and write, or we balance a family, a day job, and school, and write. There is just so much to keep up with, and few of us are blessed enough to have a secret lab with a death ray that will vaporize intruders….though I’m still saving. Frequently, writers will whine say, “But I just don’t have tiiiime. Writing and work and blogging and social media. There isn’t enough tiiiiiiime.”

Granted, all of us are spread thinly, but the thing is we have the same 24 hours as everyone else. Often we DO have the time, we just lack focus. We don’t have a time management conflict, we have a values conflict. Very often we have plenty of time, we just have values or beliefs or weaknesses that are devouring our…

View original post 1,902 more words

[Infographic] Psikologi Warna – Arti Warna Dalam Kehidupan

Selalu menarik untuk melihat dan menikmati warna. Kita pasti pernah melihat tayangan dokumenter atau malah menikmati langsung bagaimana keindahan alam dengan aneka ragam warnanya, bersyukurlah kita atas semua keagungan Sang Pencipta ini. Apa jadinya bila dunia ini hanya hitam dan putih, begitu monoton.

Sadarkah Anda, warna-warna yang kita lihat dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi kita. Bagaimana pegunungan yang begitu hijau mendamaikan, terumbu karang dengan ikan-ikan yang berwarna-warni memberi keceriaan, langit biru yang begitu tenang, dan warna-warna lainnya. Alangkah baiknya kalau kita bisa memanfaatkan pengaruh warna ini bagi kehidupan kita sehari-hari, silahkan simak informasi ini 🙂

Infographic Psikologi Warna

Sumber: nowsourcing.com

Flu dan Pilek Itu Beda

Selama ini mungkin banyak orang yang menganggap flu dan pilek itu sama, termasuk saya, flu hanya dianggap sebagai bahasa “keren” atau bahasa yang lebih ilmiah dari pilek.

Pada kenyataannya flu dan pilek itu berbeda meskipun memiliki gejala yang mirip. Flu dalam bahasa inggris tetap dikenal sebagai “flu”, kependekan dari influenza. Sedangkan pilek dikenal dengan sebutan “cold”.

Baik flu maupun pilek, keduanya sama-sama disebabkan oleh virus, pilek bisa disebabkan oleh sekitar 200 jenis virus, sedangkan flu oleh 3 jenis virus.

Flu biasanya memiliki gejala yang lebih parah daripada pilek. Dan memang flu lebih berbahaya dari pilek. Flu membunuh ribuan orang per tahun karena komplikasi.

Berikut ini perbedaan gejalanya:

Gejala Pilek Flu
Demam Jarang Lebih dari 38 derajat Celcius, dan bertahan tiga sampai empat hari
Sakit Kepala Jarang Biasanya ya
Badan Sakit Sedikit Biasanya ya, sering kali parah
Lemas Ringan Bisa terasa dua sampai tiga minggu
Rasa Kelelahan Parah Tidak terjadi Pada awal dan sangat terasa
Hidung Tersumbat Biasanya ya Kadang-kadang
Bersin Biasanya ya Kadang-kadang
Sakit Tenggorokan Biasanya ya Kadang-kadang
Dada tidak nyaman Ringan sampai sedang Biasanya ya
Batuk Sekali-sekali Bisa menjadi parah, batuk kering
Komplikasi Sinus, sakit pada telinga Bronchitis, pneumonia; dapat mengancam jiwa
Pencegahan Jaga kebersihan Vaksin
Pengobatan Hanya merupakan gejala, ketika gejala sembuh, pilek sembuh, tingkatkan daya tahan tubuh, istirahat Obat antiviral, istirahat

Nah, jadi pilek sama flu itu berbeda ya. Kalau beli obat juga harus jeli, obat flu atau obat pilek, jangan sampai kita berperang dengan senjata yang salah.

Tapi, lebih baik mencegah daripada mengobati. Kita harus jaga baik fisik kita, cukup istirahat dan makan makanan yang seimbang, supaya kekebalan tubuh kita bagus dan ga mudah kena penyakit, apalagi di kondisi cuaca yang makin ga menentu seperti sekarang. Dan tidak lupa, hati yang gembira adalah obat yang manjur 🙂

Perokok Miskin Mental

Seperti kebanyakan hari lainnya, hari ini saya pulang naik metro mini 91, duduk di baris kedua dari belakang. Yang benar-benar berbeda kali ini, ada bapak-bapak yang menegur seorang perokok *applause*

Tapi sayangnya si bapak ini tampaknya udah frustasi sama perokok, jadi dia negur agak keras, alhasil si perokok ini jadi ngelunjak, tapi ya ga tau juga ya, kalau ditegur baik-baik apa bisa..

Bapak: GA BOLEH NGEROKOK!

Perokok: Kalau mau naik taksi aja..

Bapak: Tau kan ada peraturan ga boleh ngerokok di kendaraan umum?!

Prokok: Naik taksi.. *sok santai*

Bapak: Orang baru di Jakarta ya?! Orang udah ada aturan dari tahun [88/98/08] ga boleh ngerokok di kendaraan umum! Bukan masalah naik taksi… *kesel*

Perokok: *Tetep ngerokok, dari baunya..*

Saya ga gitu denger jelas semunya. Saya ga nengok ke belakang juga, tapi kayanya sih dia tetep ngerokok, soalnya masih keciuman bau knalpotnya asepnya..

Nah, dari kejadian ini, yang pertama saya salut buat si bapak.. Jarang-jarang ada orang yang negur perokok begitu, biasanya orang pasrah aja haknya untuk menghirup udara sehat dirampas (termasuk saya)..

Kedua, saya jadi mikir, ada tiga jenis kemiskinan yang saling berhubungan:

Tingkat Sangat Parah Parah Cukup Parah
Jenis Miskin Mental Miskin Ilmu Miskin Harta
Sumber Pendidikan Pembelajaran Pekerjaan

Miskin mental adalah dimana orang melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan karena dia TIDAK MAU TAHU. Bukan karena tidak tahu. Miskin jenis ini yang paling parah, karena penderitanya punya jalan pikir yang aneh, tingkah laku yang aneh, sok-sokan ala freeman a.k.a. preman.

Mereka akan berpikir dengan “Masa bodo”, “Akan kulakukan apa yang kumau, tak ada yang bisa halangi, apapun..”, “Aku bangga bisa melanggar peraturan, aku unik, aku jadi pusat perhatin, aku hebat..”, “Ga ada yang bisa ngajarin aku, aku benar, kalian bawel..”

Orang yang miskin mental biasanya miskin ilmu dan miskin harta. Orang itu ga bisa diajarin, karena udah merasa hebat duluan, jadi ga ada ilmu yang dia punya, karena ga ada ilmu, dia ga bisa menghasilkan apa-apa, jadilah dia juga miskin harta.

Miskin ilmu sendiri karena kurang belajar, melakukan sesuatu karena tidak tahu termasuk miskin ilmu, asalkan setelah diberi tahu dia tidak melakukannya lagi, dan miskin harta karena kurang kerja.

Menurut saya, Indonesia sangat butuh pendidikan untuk membentuk mental individu, yang pada akhirnya akan menjadi mental bangsa Indonesia secara keseluruhan. Saya yakin Indonesia akan menjadi sekelas Jepang jika mental individu per individunya terbentuk dengan baik, bahkan jauh melebihi Jepang karena kita punya banyak kelebihan. Tuhan memberkati Indonesia dengan melimpah-limpah, sayangnya hal ini malah disikapi dengan kemalasan.

Kita perlu dididik dengan keras untuk malu melakukan sesuatu yang melanggar hukum, malu untuk menganggu hak orang lain, malu jika makan di warteg tidak bayar(jangan bangga), tidak bangga karena “ditakuti” — biasanya sekaligus dibenci, tidak bangga tentang seberapa parah hal negatif yang pernah dilakukan, malu dan gelisah jika tidak melakukan hal berguna, dan masih banyak lagi.

So, what can I do? What can you do? What can we do?

May God Bless Indonesia!

Telinga “Kresek-Kresek”.. Eh, Ada Rambut

2 hari yang lalu, pagi-pagi, beberapa saat setelah bangun tidur, saya dikejutkan oleh suara aneh di telinga kiri saya. Cukup menganggu, karena suaranya kencang, dari dalam telinga, seperti ada sesuatu di dalam, “kresek-kresek” bunyinya setiap kali ada gerakan yang berhubungan dengan telinga (misal, menggerekan rahang, telinga), jika tidak ada gerakan, tidak ada bunyi.

Dugaan pertama, ada kotoran telinga, ternyata tidak, dugaan kedua, ada serangga, bukan juga.. Telinganya bersih, kosong melompong.. Pikiran saya mulai aneh-aneh.. Jangan-jangan ada sesuatu yang ga bener dengan telinga ini..

Saya mulai mencari di internet dengan keyword “telinga bunyi kresek”.. Rasanya tidak ada gejala yang pas seperti yang saya alami. Sampai akhirnya, satu yang paling mendekati, menyatakan bahwa telinga dia kemasukan rambut 10-15 cm, dan sudah 6 bulan baru keluar (Berarti 6 bulan dia mengalami bunyi seperti itu.. Astaga..).

Saya coba menarik daun telinga, lalu menggerakan rahang, bunyi kresek-kresek itu tidak ada, tapi ketika saya sudah tidak menariknya, bunyinya muncul lagi. Saya semakin yakin, bahwa masalahnya hanya karena ada benda asing pada telinga saya, bukan sesuatu yang aneh-aneh (penyakit, gangguan apa lah..) karena gejala itu muncul begitu tiba-tiba.

Saya semakin yakin, sama seperti yang saya baca, ada rambut yang masuk dalam telinga saya. Saya meminta cc saya untuk melihat, apakah ada rambut, dia bilang ga ada apa-apa.. Saya mencoba memasukan jari saya, sedikiiiit saja, sakit rasanya, dan bunyinya sangat keras (sepertinya rambutnya menusuk gendang telinga).. Saya ga berani lagi, takut gendang telinganya rusak. Saya berharap sesuatu itu bisa keluar sendiri.. Ternyata sampai esok hari, masih sama saja..

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dokter, saya ke sebuah rumah sakit bersama papa saya, ke bagian THT. Si dokter memeriksa telinga saya, daaaannn.. Benar saja.. Ada rambut di dalam telinga saya.. “Eh.. Ada rambut” si dokter mengambil alatnya, mengeluarkan rambut itu, dan selesailah masalahnya…

Saya tidak langsung memberi tahu si dokter bawah masalahnya sudah selesai, dan saya memang belum mencoba menggerakan rahang atau telinga saya.  Si dokter dengan “seru”nya memeriksa telinga kanan, hidung dan tenggorokan saya..

Dia bilang saya kena radang, hidung dan tenggorokan saya merah.. Saya sedang pilek (padahal ngga tuh..). Lalu dia menjelaskan dengan gambar-gambar yang terpampang di mejanya. Hidung dan tenggorokan mempengaruhi telinga juga (<– lengkaplah kodratnya, Telinga Hidung Tenggorokan).. Sampai akhirnya si dokter buka resep.. Banyangkan 5 jenis obat, ada antibiotik, ada obat berupa spray, dll.. Katanya diakasih untuk seminggu dulu, harusnya 2 minggu, nanti balik lagi..

Tapi.. Ya, ga saya tebus obatnya.. Udah sembuh kok.. Hahaha. Dan “cuma” bayar biaya dokternya, 125.000.. Hmm.. Biaya mengeluarkan rambut dari telinga tuh.. 125.000.. =P

Pelajaran yang bisa diambil dari hal ini.. Pertama, pengalaman kalo kapan-kapan terjadi lagi (amit-amit) jangan panik. Kedua, carilah dulu informasi di internet untuk bekal pengetahuan kita sebanyak-banyaknya. Ketiga, jangan terlalu percaya juga deh sama sebagian dokter sekarang, kayanya motivasinya melenceng nih, mau nolong pasien apa mau jual obat..? Kita harus pinter-pinter juga (Udah jadi rahasia umum, sebagian (besar? sangat besar?) dokter jaman sekarang suka memberikan banyak obat yang belum tentu ada gunanya, cuma nambah-nambahin kimia dalam tubuh kita doang, lalu mereka dapet komisi(?) dan juga dikit-dikit OPERASI >.<) Keempat, sebelum tidur bantal sama selimut dibersihin dulu dari rambut yang patah ato rontok, meminimalkan resiko. Hahaha.

Sekian.. 🙂

GBU

Tidur dengan Lampu Menyala Sebabkan Leukimia

Anak-anak yang tidur dengan lampu menyala beresiko mengidap leukemia.

Para ilmuwan menemukan bahwa tubuh perlu suasana gelap dalam menghasilkan zat kimia pelawan kanker. Bahkan ketika menyalakan lampu toilet, begadang, bepergian melintas zona waktu, lampu-lampu jalanan dapat menghentikan produksi zat melatonin.

Tubuh memerlukan zat kimia untuk mencegah kerusakan DNA dan ketiadaan zat melatonin tersebut akan menghentikan asam lemak menjadi tumor dan mencegah pertumbuhannya.

Prof. Russle Reiter dari Texas University yang memimpin penelitian tersebut mengatakan “Sekali Anda tidur dan tidak mematikan lampu selama 1 menit. Otak Anda segera mendeteksi bahwa lampu menyala seharian dan produksi zat melatonin menurun”.

Jumlah anak-anak pengidap leukimia naik menjadi dua kali lipat dalam kurun 40 tahun terakhir. Sekitar 500 anak muda dibawah 15 tahun didiagnosa menderita penyakit ini pertahun dan sekitar 100 orang meninggal.

Sebuah konferensi tentang anak penderita leukimia diadakan di London menyatakan bahwa orang menderita kanker akibat terlalu lama memakai lampu waktu tidur dimalam hari dibanding dengan yang tidak pernah memakai lampu waktu tidur.

Hal ini menekan produksi melatonin dimana normalnya terjadi antara jam 9 malam sampai jam 8 pagi. Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa orang-orang yang paling mudah terserang adalah para pekerja shift yang memiliki resiko terkena kanker payudara.

Pada kenyataannya, orang-orang buta tidak rentan terhadap melatonin memiliki resiko yang lebih rendah mengidap kanker. Maka para orang tua disarankan utk menggunakan bola lampu yang suram berwarna merah atau kuning jika anak-anaknya takut pada kegelapan.

Sumber: Kaskus