Perilaku dan Kepintaran, Produk dan Katalisnya

Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude.

Zig Ziglar

Pernah mendengar atau membaca kutipan tersebut?

Benar memang apa yang menjadi arti dari kutipan tersebut. Yang menentukan “ketinggian / kerendahan” (aptitude)  seseorang adalah perilakunya (attitude), bukan kepintarannya (aptitude). Kepintaran hanyalah katalis, untuk mempercepat, memperbesar, memperhebat apa yang menjadi produk / nilai , perilaku, sesungguhnya dari seseorang.

Your attitude, not your aptitude, will determine your altitudeOrang yang perilakunya baik akan menghasilkan tindakan-tindakan yang baik, ditambah jika orang tersebut memiliki kepintaran lebih, dia akan menghasilkan hal-hal baik yang lebih banyak / lebih hebat / lebih besar. Sebaliknya jika seseorang yang perilakunya tidak baik, semakin pintar orang tersebut, semakin hebat kecemaran yang bisa dibuatnya.

Contohnya seperti ini. Sama-sama maling. Maling yang kurang pintar mencuri ayam, merugikan satu keluarga. Maling yang pintar menjadi koruptor, mencuri uang dari ribuan bahkan jutaan orang, menghancurkan masa depan satu bangsa.

Hal ini perlu juga menjadi pertimbangan kita ketika mencari rekan kerja atau karyawan. Prioritas pertama tentu saja perilakunya, bukan kepintarannya.

Kurang Pintar Sangat Pintar
Perilaku Baik Performa Kurang CEMERLANG
Penjahat Kekacauan BENCANA
Advertisements

Value of a Pizza, “Spending for Life” or “Life for Spending”

Pizza

Value of a Pizza

Wife : Don’t put so many clothes for wash today.

Husband : Why ?

Wife : Maid has said she won’t come for two days.

Husband : Why ?

Wife :  She said she’s going to meet her grand daughter during Ganpati Festival.

Husband : OK, will not put too many clothes.

Wife : And Shall I give her Rs. 500 for Ganpati ? Festival Bonus ?

Husband : Why ? Diwali is approaching nearby, we will give her at that time..

Wife : Oh no dear. She is poor. Going to meet her daughter & Grand daughter, so she will also feel nice. Moreover, everything has become so expensive these days . How will she be able to celebrate festival ?

Husband : You !! I don’t know why u become emotional so easily ?

Wife : Oh no dear, don’t worry. I m going to cancel today’s programme of ordering pizza. Why unnecessary blowaway Rs.500 on eight pieces of Stale Bread ?

Husband : Wow Great !! Snatching pizza from us and giving it to the Maid !!

Maid returned after 3-days & got busy in mopping and dusting.

Husband asked her : So, How was the vacation ?

Maid : Very nice shahib.. Didi had given me Rs. 500.. Festival Bonus

Husband : So U went and met ur daughter and grand daughter ?

Maid : Yes saahib. Enjoyed a lot and spent Rs. 500 in two days time.

Husband : Really ? Ok so what did u do with Rs. 500 ?

Maid : Rs. 150 for Dress for Grand daughter, Rs. 40 for A Doll, bought sweets worth Rs. 50 for daughter, Rs. 50 as offering to deity in Temple, Rs.60 towards Bus Fare, Rs. 25 for bangles for daughter, bought a nice belt worth Rs. 50 for son-in-law, gave the balance Rs. 75 to daughter to buy pencil and copy for grand daughter.
Maid had given a full account of the expenses incurred.

Husband : So Much in Rs. 500 ?

Surprised, he started thinking… the eight pieces of Pizza appeared in front of his eyes and each one of them acted as a hammer that started knocking on his conscience. For the price of one pizza – he started comparing the expenses his maid had incurred during his visit to her daughter. The Eight pieces of Pizza floated in front of his eyes.

First Piece….Dress for the child

Second Piece….Towards Sweets

Third Piece….Towards offering to the deity in the Temple

Fourth Piece….Towards Bus Fare

Fifth Piece….Towards Doll

Sixth Piece….Towards Bangles

Seventh Piece….Towards Belt for son-in-law

Eighth Piece….Towards copy & Pencil

So far he had observed pizza only from one angle. He turned it upside down and observed how it looks like from the other side…

And Today his maid showed him the other side of the pizza…The eight pieces of pizza showed him Real meaning of Life.

In an Instant the meaning of “Spending for Life” or “Life for Spending”

via What is a short story which can enlighten me on life problems? – Quora.

Giving Food to HomelessKita sering tidak rela mengeluarkan uang untuk suatu hal, tetapi boros untuk hal yang lain.

Sayangnya kita lebih sering sayang mengeluarkan uang untuk membantu kepentingan orang lain daripada untuk kesenangan pribadi, hobi, atau untuk memuaskan nafsu. Dengan mudah kita bisa mengeluarkan 100.000 untuk nonton atau bersenang-senang, habis dalam 2 jam. Padahal di sisi lain jumlah uang yang sama bisa dipakai orang yang membutuhkan untuk menyambung hidup beberapa hari, yang dengan berbagai argumen kita enggan membantunya.

Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Don’t Judge A Book by Its Cover?

Don’t Judge A Book by Its Cover — Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya..

Perumapaan ini sering kita dengar, apapun konteksnya, terutama dalam menilai seseorang.

Tapi,, mungkinkah ini bisa dilakukan?

Mau ga mau setiap orang pasti dinilai, dan setiap orang pasti menilai. Maka penting bagi kita untuk bisa menjaga penampilan kita. Bagaimana kita bisa tampil anggun didepan orang-orang. Terutama didepan orang yang belum atau baru kita kenal. Maka, apa yang orang sering sebut dengan “JaIm” alias Jaga Image itu penting, gunannya agar orang yang baru mengenal kita itu tidak salah menilai diri kita. Penampilan kitalah yang pertama dinilai oleh orang, karena aspek inilah yang paling terlihat pertama kali, baru setelah kita lolos dari penilaian penampilan, kita akan diterima untuk dinilai secara lebih dalam.

Orang sangat banyak menilai pada perjumpaan pertama. Disanalah letak awal dari penerimaan mereka terhadap diri kita. Misalnya, ketika kita bertemu seseorang, ucapan kita penuh dengan kata-kata yang tidak sopan, penampilan acak-acakan, kecil kemungkinan bagi orang itu untuk menerima kita menjadi rekannya, jika itu orang yang berpribadi baik, karena kita akan berpengaruh buruk bagi dia. Ingat, seseorang bisa dinilai dari lingkungannya. Jadilah lingkungan yang baik bagi orang lain, dan hiduplah di lingkungan yang baik.

Bahkan, ketika kita sedang membaca buku tersebut (saat kita telah mengenal orang tersebut), penilaian akan terjadi selamanya. Misalnya, ketika kita telah mengenal seseorang, selama ini kita menilainya sebagai orang yang santun, lalu suatu ketika kita melihatnya sedang mabuk, berubahkah penilaian kita? Ketika kita mengenal seseorang yang kita nilai setia, ternyata suatu kali ia berlaku tidak setia, berubahkah penilaian kita? Maka dari itu, selalu jadilah pribadi yang baik, yang anggun, yang sopan, jujur, yang penuh kasih, yang setia pada yang benar, yang selalu berusaha untuk hidup kudus dihadapan TUHAN.

Be yourself A Better You!

GBU