Orang Baik Yang Hidupnya Belum Baik | Mario Teguh

Anda berbakat bagi keberhasilan-keberhasilan yang besar, jika Anda tegas membebaskan diri dari pekerjaan dan pergaulan yang tidak menjadikan Anda kuat dan damai.

Apakah ada kesertaan kita dengan orang lain – yang hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya – tanpa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi penguatan kehidupan kita?

Seseorang tidak bisa disebut sebagai orang baik, jika dia meyakini yang baik, tetapi melakukan yang tidak baik.

Janganlah mengikuti orang yang salah pikir, yang mengira bahwa dia akan mendapat kebaikan dari menghindari kebaikan dan dari melakukan keburukan.

Maka jangan sampai kita ditanya, “apakah engkau tidak berpikir?”

Jika ada orang muda yang shalih, kita harus mensyukuri bahwa dia telah mengikhlaskan dirinya kepada kebaikan saat se-muda itu, karena banyak sekali orang yang masih bernegosiasi dan meminta penundaan agar mereka tidak harus berlaku baik sekarang.

Banyak dari mereka merasa bahwa berlaku baik sekarang adalah kerugian, karena masa muda adalah masa untuk hidup dalam kebebasan, dan kebaikan hanya untuk orang yang sudah mulai menua.

Dengan pengertian seperti itu, mereka akan bersikap dan berlaku santai, dan tidak membangun nilai pribadi yang akan menjadikan mereka pribadi yang dibayar mahal dan dihargai tinggi di masa depan.

Yang tidak bekerja keras semasa muda, akan dipaksa bekerja keras di masa tua.

Jika kita mengatakan yang baik, maka lakukanlah yang baik, dan hindarilah yang buruk.

Kerjakanlah apa yang harus Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya niat dan dengan sebaik-baiknya cara.

Hanya kebaikan yang membaikkan.

Maka marilah kita meyakini yang baik, dan hidup dalam kebaikan yang kita yakini.

Sumber: Facebook

Seeing The Photo

Lagi pingin flashback nih..
Kenapa g kasih judul “Seeing The Photo”, karena flashback itu kita ngeliat ke masa lalu, yang udah lewat, dan photo itu pasti merupakan gambaran yang udah lewat. Tapi, sebenernya g lagi ga liat foto apapun sih, cuma ngeliat gambaran yang masih tersisa di otak g.

Hmm.. entah kenapa, belakangan ini (1 tahunan) g ngerasa kualitas hidup g terus menurun, baik itu kualitas yang ada pada diri g, maupun cara g menjalani kehidupan.

Dulu pas SMA, g kalo flashback ke SMP, rasanya seneng ada di SMA, kehidupan g jauh lebih baik.. Selepas SMA g pun berpikir seperti itu, pasti pas kuliah g akan melihat kuliah lebih baik dari SMA, tapi kenapa sekarang ngga ya… >.<

G jadi inget, dulu g pernah punya masa yang sangat indah dalam hidup g, itu waktu SMA 2, sampe sekitar SMA 3..

G bener-bener bisa ngejalanin hidup g dengan mantap, di periode itu g bisa mengontrol diri g dengan baik, g bisa selalu berpikir positif, bisa selalu bersyukur, g bisa milih mana yang harus g peduliin dan mana yang ga, g bisa berprestasi, g punya orang-orang yang positif di sekeliling g, yang bisa menjaga kepercayaan yang g kasih dan bisa percaya sama g, tempat g berbagi, saling terbuka, saling support. Ada yang ngingetin g waktu g salah, ada yang ngasih g motivasi, ada yang sering minta saran sama g. Bisa bersosialisasi sama banyak orang, sering pergi-pergi bareng (badminton / jalan-jalan, nonton).

Setiap pagi, setelah g sadar dari tidur, napas pertama g adalah ucapan syukur sama TUHAN buat pagi baru, buat udara yang begitu sejuk, buat napas g, buat orang-orang disekitar g. Tiap pagi sebelum masuk sekolah, g selalu sempetin mampir di gereja, mengucap syukur dan minta kekuatan dan penyerataan TUHAN buat hari ini. Tiap malem g punya saat teduh, baca Alkitab, dan berpikir.. mendoakan orang-orang.

Everything looks great.. Penuh semangat.. Ga ada yang perlu dikuatirkan..

Pingin rasanya bisa jalanin hidup kaya gitu lagi.. But,, that is history, hopefully, and i will try, to get more.. more.. more!!

Dibandingin sama sekarang,, g merasa bener-bener mundur, banyak keluhan, jarang bersyukur, banyak pikiran-pikiran negatif, g takut berpikir positif, takut hal itu memang beneran negatif, susah mau percaya sama orang, g takut percaya sama orang yang salah. G bingung sama keputusan g sendiri. Kadang g ngerasa sendiri, dan memang sendiri.. Mana orang yang bisa menjaga kepercayaan g dan percaya sama g? Jadwal yang cukup padat juga makin membuat g “terisolasi” and sometime menekan g.

G juga ngerasa kehidupan rohani g mundur, g udah sering ga saat teduh, ga ada lagi ke gereja pagi-pagi, masa pra-paskah inipun g jalanin ga beda sama hari-hari biasa, bahkan rabu abu aja g ga sempet ke gereja, g ngerasa hubungan sama TUHAN semakin renggang. Rasanya g gagal kalo diuji,, dikasih masalah dikit g ngeluh, down.. Pingin kaya dulu, kalo ada masalah g bisa inget firman TUHAN yang nguatin g lagi.

Sudahlah,, udah setengah 01.40, ga semua bisa ditulis ternyata..

Semoga semua bisa berjalan lebih dan lebih baik lagi..

GBU

Di Jalan yang Benarkah?

Emm..
Sekali-sekali g merasa seperti berjalan di jalan yang salah..
Seperti semua yang ada sekarang cuma basa-basi yang ngabis-ngabisin waktu g..
Sampai akhirnya nanti g menyadari “Ok, ini salah.” dan g harus kembali dengan tertunduk..

TUHAN,, di jalan yang benarkah aku?
Atau aku terlalu sibuk dengan hal duniawiku sampai aku menjadi tuli untuk mendengar suaraMu..
Sebelum aku melangkah lebih jauh,, TUHAN,, tuntun aku ke jalanMu..
Dan tolong kuatkan aku..
Supaya kalau aku jatuh, aku belajar ganti menangis..
Supaya kalau aku berhasil, aku bersyukur ganti sombong..

Beranikan aku melihat kenyataan, beranikan aku melangkah..
Murnikan hatiku untuk melihat yang benar, bukan yang kelihatan benar tapi tidak tulus, palsu..
Biarlah Kau tetap menjadi mata air ku, kekuatanku, semangatku..

Hidupku di tanganMu TUHAN..
Di balik pahitku ada madu Kau sediakan..
Biar aku hanya percaya pada yang benar.. Supaya tidak tawar hatiku..

Don’t Judge A Book by Its Cover?

Don’t Judge A Book by Its Cover — Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya..

Perumapaan ini sering kita dengar, apapun konteksnya, terutama dalam menilai seseorang.

Tapi,, mungkinkah ini bisa dilakukan?

Mau ga mau setiap orang pasti dinilai, dan setiap orang pasti menilai. Maka penting bagi kita untuk bisa menjaga penampilan kita. Bagaimana kita bisa tampil anggun didepan orang-orang. Terutama didepan orang yang belum atau baru kita kenal. Maka, apa yang orang sering sebut dengan “JaIm” alias Jaga Image itu penting, gunannya agar orang yang baru mengenal kita itu tidak salah menilai diri kita. Penampilan kitalah yang pertama dinilai oleh orang, karena aspek inilah yang paling terlihat pertama kali, baru setelah kita lolos dari penilaian penampilan, kita akan diterima untuk dinilai secara lebih dalam.

Orang sangat banyak menilai pada perjumpaan pertama. Disanalah letak awal dari penerimaan mereka terhadap diri kita. Misalnya, ketika kita bertemu seseorang, ucapan kita penuh dengan kata-kata yang tidak sopan, penampilan acak-acakan, kecil kemungkinan bagi orang itu untuk menerima kita menjadi rekannya, jika itu orang yang berpribadi baik, karena kita akan berpengaruh buruk bagi dia. Ingat, seseorang bisa dinilai dari lingkungannya. Jadilah lingkungan yang baik bagi orang lain, dan hiduplah di lingkungan yang baik.

Bahkan, ketika kita sedang membaca buku tersebut (saat kita telah mengenal orang tersebut), penilaian akan terjadi selamanya. Misalnya, ketika kita telah mengenal seseorang, selama ini kita menilainya sebagai orang yang santun, lalu suatu ketika kita melihatnya sedang mabuk, berubahkah penilaian kita? Ketika kita mengenal seseorang yang kita nilai setia, ternyata suatu kali ia berlaku tidak setia, berubahkah penilaian kita? Maka dari itu, selalu jadilah pribadi yang baik, yang anggun, yang sopan, jujur, yang penuh kasih, yang setia pada yang benar, yang selalu berusaha untuk hidup kudus dihadapan TUHAN.

Be yourself A Better You!

GBU