Kodok, Hewan Sensitif, Indikator Perubahan Lingkungan

https://i1.wp.com/rumametmet.com/wp-content/uploads/2008/05/kodok-12.jpgKodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.

Tahun kodok

Tahun 2008 disepakati sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Penetapan ini berawal dari kekhawatiran banyak ahli kodok di dunia terhadap rentannya eksistensi kodok akibat isu pemanasan global dan besarnya ancaman dari dampak lingkungan. Tujuan penetapan Tahun Kodok untuk mengangkat pamor kodok di dunia.

Bahaya yang dihadapi

Masalah utama yang mengancam populasi dan keanekaragaman jenis kodok di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai (berupa limbah rumah tangga dan logam berat), dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Pemanfaatan yang berlebihan serta serangan penyakit jamur dan virus juga menjadi menjadi ancaman yang dihadapi kodok.

Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa. Kerusakan di Pulau Jawa berdampak nyata pada status jenis-jenis kodok yang terdapat di dalamnya, terutama jenis-jenis yang endemik (tidak terdapat di pulau lain).

Perbedaan katak dan kodok

Katak memiliki:
• Kulit yang halus dan berlendir
• Kaki yang panjang dan kuat
• Kaki belakang yang berselaput
• Dua mata yang menonjol
• Bertelur dalam klaster

Kodok memiliki
• Kulit yang kering dan berbintil
• Badan yang buntek dengan kaki belakang pendek
• Kelenjar paratoid di belakang mata
• Bertelur dalam rantai yang panjang

Continue reading

Advertisements

Orangutan Segera Punah

https://i0.wp.com/www.african-safari-journals.com/image-files/orangutan-pictures.jpgSekitar 80 orangutan sitaan telah dilepas kembali ke alam bebas setelah menjalani adaptasi di pusat reintroduksi orangutan Frankfurt Zoological Society, Jambi, Jumat (22/2). Jumlah orangutan diperkirakan lenyap sekitar 5.000 ekor per tahun. Keberlanjutan spesies ini sangat mengkhawatirkan.

Orangutan diperkirakan punah dalam delapan hingga sepuluh tahun mendatang apabila pembukaan hutan di Sumatera dan Kalimantan tetap berlangsung agresif. Konservasi habitat aslinya di kawasan hutan diperlukan untuk menjaga keberlangsungan spesies berstatus terancam punah ini.

Direktur Konservasi Paneco Sumatran Orangutan Conservation Programme, Ian Singleton mengatakan, jumlah orangutan terus berkurang sekitar 5.000 ekor setiap tahun, seiring maraknya pembukaan habitat asli sepesies ini menjadi perkebunan sawit. Orangutan kini hanya tinggal 6.500 ekor di Sumatera dan 45.000 ekor di Kalimantan.
Continue reading