Dampak Pemanasan Global Jauh Lebih Buruk

Pengaruh buruk pemanasan global ternyata jauh lebih parah dari semua perkiraan berdasarkan asumsi yang terukur saat ini. Kerusakan yang dapat ditimbulkan akibat naiknya suhu Bumi dalam seabad ke depan mungkin sangat buruk.

Kita sekarang jelas menghadapi perubahan iklim di masa depan yang jauh di atas perkiraan yang diusulkan dalam kebijakan iklim. Misalnya, laporan tahun 2007 yang memperkirakan kenaikan suhu antara 1,1 hingga 6,4 derajat celsius dalam 100 tahun ke depan.

Perkiraan tersebut masih mengabaikan berbagai masalah yang sebanarnya turut memengaruhinya. Kenaikan suhu bergerak lebih cepat dan dampaknya bakal lebih buruk dari yang kita pikirkan selama ini.

Temperatur yang meninggi menyebabkan hutan basah di kawasan forest-firetropis mengering sehingga lebih mudah terbakar. Kebakaran hutan di Australia misalnya, yang merupakan kebakaran hutan terbesar di sana selama beratus-ratus tahun terakhir, ini bukti dari mengerikannya iklim sekarang. Selain itu, suhu tinggi juga mempercepat pencairan permafrost, kandungan es dalam tanah dekat kutub. Hal tersebut turut mempercepat kenaikan kadar gas rumah kaca di atmosfer sehingga mempercepat laju pemanasan global.

“Tanpa upaya yang efektif, perubahan iklim semakin besar dan semakin sulit diduga,” ujar Field.

Edited by Herwin
Sumber: KCM

Indonesia Pencuci Dosa Negara Maju

indonesia_mapIndonesia tidak boleh menjadi green wash negara maju. Indonesia bukanlah pencuci dosa-dosa negara maju karena negara-negar ini terus berkelit dari kewajiban menurunkan emisi.

Demikian dikatakan Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, pada pertemuan  informal dengan Civil Society Forum on Climate Justice (CSF), di Poznan, Polandia, Rabu (10/12).

CSF sangat mendukung posisi Menteri Lingkungan ini. ”Jelas Indonesia tidak boleh menjadi negara  “pencuci dosa-dosa” negara-negara maju.”tegas Giorgio Budi Indarto. Menurut juru Bicara CSF ini dari proses negosiasi COP-14, terlihat bagaimana kelompok negara yang tergabung dalam Anex-1 terus berkelit dari kewajiban menurunkan emisi, bahkan mereka berupaya mengalihkan kewajibannya  kepada negara berkembang.

Dalam pertemuan khusus yang dilakukan di sela-sela berlangsungnya COP 14/CMP 5, CSF menyampaikan hal-hal terkait  dengan proses negosiasi, Reduction Emission Degradation and Deforestation (REDD), dan  Pasca 2012.

Menanggapi  usulan CSF, Witoelar berjanji  akan mengangkat kewajiban negara maju untuk melakukan deeper cut, pengakuan masyarakat adat dan lokal serta perlunya pengarusutamaan gender dalam penanganan perubahan iklim dalam pidato ministrial meeting yang akan digelar mulai tanggal 11 Desember.

Terkait REDD, Indarto menyampaikan agar pemerintah Indonesia  tidak  menilai  hutan hanya sekadar sebagai  stok karbon, namun harus dilihat juga nilai dari fungsi-fungsi keanekaragaman hayati  yang lain. ”Sebaiknya juga, saat membicarakan hutan  dalam penanganan perubahan iklim, Indonesia harus  mengedepankan kepentingan tutupan hutan (forest cover) bukan hanya carbon stock dari tegakan pohon semata.” tambahnya lagi.

CSF mengingatkan agar pemerintah menempatkan keselamatan  serta perlindungan hak-hak masyarakat, perempuan dan laki-laki sebagai pertimbangan utama dan penting dalam negosiasi. Jika REDD sebagai alternatif terakhir untuk menyelamatkan hutan akan diterapkan, maka mutlak diperlukan adanya kesiapan dari forest governance di tingkat nasional.
REDD dalam arti sebenarnya atau pengurangan emisi dari sektor kehutanan harus disepakati dengan cara yang partisipatif,  transparan, adil, dengan mekanisme pembagian keuntungan yang adil sehingga tingkat deforestasi sangat tinggi di Indonesia dapat dikurangi tanpa meminggirkan masyarakat.

”Akan sangat baik jika di COP berikutnya di Copenhagen, Indonesia sudah memiliki  tentang penerapan program pengurangan emisi dari kehutanan yang sesuai dengan koridor demokrasi” imbuh Indarto .
bali_saung
Untuk Pasca 2012, CSF menuntut agar Indonesia menyerukan secara tegas upaya penurunan emisi secara tajam (deeper cut) dan adanya kepemimpinan (leadership) dari negara maju untuk melakukan penurunan emisi tersebut dan keputusan final pada COP-15, komitmen yang terukur untuk pendanaan adaptasi dan mitigasi untuk negara non Annex-1 serta teknologi transfer.

Rachmat Witoelar menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tetap akan menjamin  pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat dan lokal meskipun Witoelar mengakui dalam proses negosiasi yang terjadi, tidak sedikit para pihak yang menentang. Sehingga perundingan yang dihasilkan merupakan upaya kompromi yang maksimal .

Sumber: KCM

Pemasok Unilever Bakar Hutan Kalimantan

Kita semua pasti tau kan Unilever. Perusahaan yang sangat besar dibalik merek-merek yang terkenal di dunia. Sabun Dove, Vaseline, Pond’s, Lux, Sunlilk, CloseUp, dll. Ternyata Unilever menyumbang perusakan hutan serta lahan gambut Indonesia, ekosistem terakhir di muka bumi yang merupakan cadangan karbon yang sangat besar dan merupakan habitat orangutan serta satwa langka lainnya, menurut Greenpeace.

Padahal Unilever adalah salah satu pengguna minyak kelapa sawit terbesar di dunia merupakan pemrakarsa utama Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO), organisasi industri yang didirikan dengan tujuan memastikan produksi minyak kelapa sawit yang ramah lingkungan, ternyata tidak melakukan apapun untuk mengehentikan para pemasok merusak hutan serta lahan gambut. Kecuali Unilever membersihkan segenap operasinya orangutan akan punah lebih cepat, kita kehilangan kesempatan bertindak mencegah bencana iklim,” ujar Sue Connor dari Greenpeace Internasional di Jakarta.

Bayangkan, hutan yang sedang gencar-gencarnya dilestarikan untuk mencegah global warming dan usaha-usaha dari segala organisasi pecinta lingkungan untuk melindungi satwa yang terancam punah (terkhusus Orang Utan) malah dihancurkan begitu saja demi sabun dan shampo.

Kerusakan hutan Indonesia terjadi lebih pesat dibandingkan negara pemilik hutan lainnya di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di muka bumi.

Lahan gambut yang dalam di kawasan ini ketika dikeringkan dan kemudian dibakar dalam proses mempersiapkan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah yang besar. Kawasan lahan gambut ini bertanggung jawab atas 4% dari jumlah emisi gas rumah kaca dunia.

Menurut Pusat Perlindungan Orang-Utan (Centre for Orangutan Protection), setidaknya 1.500 orangutan mati di tahun 2006 akibat serangan yang disengaja oleh pekerja perkebunan.

Sejak tahun 1900, jumlah orangutan Sumatera diperkirakan turun 91%, dengan angka terbesar di akhir abad ke-20.

Sejak tahun 1990, 28 juta hektar hutan Indonesia – dengan ukuran sama dengan Ekuador – telah dihancurkan, sebagian besar akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Permintaan akan minyak kelapa sawit diperkirakan akan meningkat berlipat ganda; dua kali lipat pada tahun 2030 dan tiga kali pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2000.

Sumber: Greenpeace
Editor: Herwin