Terang dan Cermin

Alkitab memberikan kita pengajaran tentang bagaimana kita harus menjadi terang, di sisi lain harus memperlakukan orang lain seperti cermin.

Apa maksudnya terang, apa maksudnya cermin?

Aturan perjanjian lama menjadikan manusia sebagi cermin, kita kenal hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi” pada perjanjian lama. Jika kita diperlakukan dengan tidak baik, maka sebagai cermin, kita berhak berlaku tidak baik pula (membalas) pada orang tersebut. Kita hanya memantulkan perilaku orang lain terhadap diri kita.

Apabila seseorang menyebabkan orang lain cedera, apa sahaja yang sudah dilakukannya harus dilakukan juga terhadap dia. Jika dia mematahkan tulang orang lain, tulangnya juga mesti dipatahkan. Jika dia membutakan satu belah mata orang lain, maka satu belah matanya juga mesti dibutakan. Jika dia mematahkan satu biji gigi orang lain, maka satu biji giginya juga mesti dipatahkan. Apa sahaja yang dilakukannya sehingga orang lain cedera, mesti juga dilakukan terhadap dia sebagai pembalasan. Sesiapa yang membunuh binatang mesti mengganti binatang itu, tetapi sesiapa yang membunuh orang mesti dihukum mati.

– Imamat 24: 19-21

Aturan tersebut telah dipatahkan dengan perjanjian baru, dimana kita diajarkan untuk memberikan kasih, tidak memantulkan, melainkan menjadi sumber. Sumber kebaikan, sumber terang.

Sumber terang tidak memantulkan apa yang orang lain perbuat kepadanya, melainkan secara konsisten memberikan terang bagi sekelilingnya, apapun yang terjadi, betapapun gelap sekelilingnya, tidak menjadikan terang itu gelap.

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

– Matius 5:38-39

Di sisi lain, kita harus memperlakukan orang lain sebagai cermin agar kita dapat menjaga perilaku kita. Kita harus beranggapan bahwa orang lain akan mencerminkan apa yang kita perbuat terhadap mereka. Bagaimana kita harus menghormati orang lain, memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan dan menghormati diri kita sendiri. Kita kenal aturan ini sebagai hukum cermin / timbal balik / tabur tuai.

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

– Matius 7:12

Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

– Matius 7:2

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

– Lukas 6:38

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan refleksi dan mengingatkan kita tentang bagaimana kita harus bersikap dan memperlakukan orang lain.

Dan, yang terakhir

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

– Kolose 3:23

Tentu kita tidak akan berbuat hal yang buruk, mengecewakan atau mempermainkan Tuhan.

God bless.

Advertisements

Perilaku dan Kepintaran, Produk dan Katalisnya

Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude.

Zig Ziglar

Pernah mendengar atau membaca kutipan tersebut?

Benar memang apa yang menjadi arti dari kutipan tersebut. Yang menentukan “ketinggian / kerendahan” (aptitude)  seseorang adalah perilakunya (attitude), bukan kepintarannya (aptitude). Kepintaran hanyalah katalis, untuk mempercepat, memperbesar, memperhebat apa yang menjadi produk / nilai , perilaku, sesungguhnya dari seseorang.

Your attitude, not your aptitude, will determine your altitudeOrang yang perilakunya baik akan menghasilkan tindakan-tindakan yang baik, ditambah jika orang tersebut memiliki kepintaran lebih, dia akan menghasilkan hal-hal baik yang lebih banyak / lebih hebat / lebih besar. Sebaliknya jika seseorang yang perilakunya tidak baik, semakin pintar orang tersebut, semakin hebat kecemaran yang bisa dibuatnya.

Contohnya seperti ini. Sama-sama maling. Maling yang kurang pintar mencuri ayam, merugikan satu keluarga. Maling yang pintar menjadi koruptor, mencuri uang dari ribuan bahkan jutaan orang, menghancurkan masa depan satu bangsa.

Hal ini perlu juga menjadi pertimbangan kita ketika mencari rekan kerja atau karyawan. Prioritas pertama tentu saja perilakunya, bukan kepintarannya.

Kurang Pintar Sangat Pintar
Perilaku Baik Performa Kurang CEMERLANG
Penjahat Kekacauan BENCANA

Hati-Hati! Sikap dan Cara Berpikir Menular

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. ~1 Korintus 15:33

Sikap sama menularnya dengan virus. Yang lebih buruk dari semua itu adalah sikap buruk yang menular.

Salah satu contoh betapa cepatnya sikap buruk menular melalui pikiran adalah kisah dari Norman Cousins berikut ini.

Suatu kali, dalam sebuah pertandingan sepakbola, seorang dokter dari pusat pertolongan pertama merawat lima orang karena dicurigai keracunan makanan. Karena gejala serupa, ia berusaha melacak apa yang sama diantara mereka. Ia segera menemukan bahwa kelima orang itu semuanya membeli minuman dari sebuah kios tertentu di stadion iti.

Sang dokter ingin melakukan sesuatu yang bertanggung jawab, maka ia minta agar si pemberi pengumuman dalam pertandingan itu untuk menyarankan supaya orang-orang di stadion itu tidak membeli minuman dari stand yang satu itu karena ada kemungkinan keracunan. Tak lama kemudian, lebih dari dua ratus orang mengeluh gejala keracunan makanan. Hampir separuh jumlah orang itu menunjukkan gejala yang parah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Tetapi ceritanya belum selesai. Setelah diselidiki ternyata lima korban awal itu telah makan salad kentang yang tercemar di sebuah toko roti dalam perjalanan mereka menuju tempat pertandingan itu. Ketika “para penderita” lain mendengar bahwa minuman di stadion itu aman, mereka dalam sekejab mengalami kesembuhan yang ajaib.

Cerita ini membuktikan bahwa apa yang kita percayai dengan cepat menyebar dan mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitar kita.

Maka itu, marilah kita hidup dalam lingkungan yang positif, dimana kita bisa saling menularkan hal-hal positif satu sama lain. Namun, jangan puas sampai disana saja, ketika kita sudah mampu, keluarlah dari zona aman, mari kita juga menularkan hal positif kita ke orang-orang yang memerlukannya, untuk membawa perubahan bagi mereka.

Sumber : John C Maxwell; 17 Hukum Tak Tersangkali; EQUIPS
Quote from: Jawaban.com

Menuntut = Meminta + Kesungguhan | Mario Teguh

Pergaulan adalah tempat ditetapkannya standar.

Seorang muda yang bergaul dengan pribadi-pribadi yang santun dan bersemangat mewujudkan impian-impian besar mereka, akan menjadi orang muda yang berhasil tanpa harus menjadi tua, dan menjadi pribadi anggun tanpa harus dilahirkan dalam keluarga ningrat.

Sedangkan dia yang menyediakan matanya bagi pemandangan yang kusam norma – tidak akan mengenali kebaikan yang berada dalam jangkauannya.

Dia yang menyediakan telinganya bagi kata-kata rendah nan hasut – tidak akan mengerti anjuran-anjuran baik yang akan memuliakannya.

Dan dia yang menggerakkan tubuhnya mengikuti gerakan orang-orang yang tuna malu – akan menolak berjalan dengan cara yang akan meninggikan derajatnya.

Marilah kita tegas memelihara diri dari hal-hal yang tidak memuliakan, dan agar kita berfokus pada hal-hal yang membesarkan kehidupan.

Anda harus menetapkan standar kualitas untuk yang dapat Anda terima dalam karir dan kehidupan pribadi Anda.

Jika tidak, Anda akan sering diharuskan menerima apa adanya.

Padahal, …

Menerima apa adanya bukanlah sikap yang mewakili keberserahan kepada Tuhan.

Karena,

Mengupayakan tercapainya yang TERBAIK,
adalah sikap orang yang mensyukuri apa pun yang telah ada pada dirinya, UNTUK mencapai yang LEBIH BAIK
bagi dirinya, keluarganya, dan bagi sebanyak-mungkin orang lain.

Tidak ada orang yang lebih disia-siakan hidupnya, daripada dia yang diharuskan menerima apa adanya, saat yang lebih baik masih mungkin baginya.

Jika yang lebih baik bagimu – masih mungkin, mengapakah engkau berhenti pada yang cukup?

Janganlah engkau bersikap seperti rendah hati dan bersahaja, tetapi yang sebetulnya adalah topeng dari hati malas mu.

Engkau hanya akan mendapat yang kau tuntut.

Karena,

Jika engkau menuntut, engkau akan menambahkan kesungguhan pada permintaanmu.

Engkau akan merajinkan diri. Engkau akan mengisi waktumu dengan pekerjaan yang bernilai. Engkau akan menjadikan hubunganmu dengan orang lain sebagai kesempatan untuk menyampaikan keuntungan. Engkau akan menjadikan kehadiranmu sebagai pengindah perasaan orang lain.

Jika engkau bersungguh-sungguh mengupayakan yang terbaik, engkau akan mendapatkan yang terbaik.

Sehingga,

Engkau hanya akan mendapat yang kau tuntut.

Menuntut adalah meminta dengan kesungguhan yang penuh.

Maka, …

Jadilah pribadi yang pantas untuk menuntut yang terbaik.

Karena,

Dia yang menuntut yang terbaik, akan mendapatkan yang terbaik.

Tuntutlah dirimu..

Sabar, Sampai Kapan? | Mario Teguh

Kita tidak mungkin bisa menunggu datangnya sesuatu yang tidak kita SEBABKAN kehadirannya.

Kita tidak bisa menunggu kesehatan, yang kita jauhkan dengan kebiasaan buruk.

Kita tidak bisa menunggu uang, dari pekerjaan yang kita malas mengerjakannya, atau yang kalau bisa kita hindari.

Kita tidak bisa menunggu kebahagiaan, dengan cara bicara dan bersikap yang menyalahkan siapa pun kecuali diri sendiri.

Dan kita tidak bisa menunggu kehidupan yang damai, dengan cara melanggar batasan-batasan kebaikan.

Jika yang kita kerjakan jelas, akan jelas jugalah apa yang kita tunggu.

Banyak sekali orang yang kelihatannya sibuk, tetapi yang sebetulnya tidak bekerja.

Ingatlah, bahwa tidak semua kesibukan adalah pekerjaan.

Pekerjaan adalah kesibukan yang menghasilkan keuntungan bagi orang lain, sebagai cara untuk membangun keuntungan bagi diri sendiri.

Kesibukan yang bukan pekerjaan, tidak akan menyediakan sesuatu yang bernilai untuk ditunggu, kecuali penuaan tanpa kemampuan.

Sebetulnya bukan yang kita tunggu – yang datang, kita lah yang datang menemui hadiah bagi kerja keras kita di masa depan.

Kita sampai, hanya karena kita bergerak.

Semua yang kita tunggu itu berada di masa depan, dan tidak mungkin datang menemui kita di hari ini.

Kita lah yang harus menjadi pribadi yang lebih kuat, karena akan ada banyak tutup dari periuk rezeki besar yang harus kita angkat dan buka di masa depan.

Kita lah yang harus menjadi pribadi yang lebih tinggi, karena permata dan mutiara kesejahteraan itu disusun di rak-rak yang lebih tinggi di masa depan.

Kita lah yang harus menepatkan sudut pandang, karena pintu-pintu menuju taman-taman pemuliaan kehidupan di masa depan tidak terlihat dari sikap-sikap yang salah.

Kita lah yang harus membersihkan hati, karena keindahan kehidupan yang bahkan sudah tersedia hari ini, tidak akan dirasakan oleh hati yang belum bersih.

Marilah kita mengambil tanggung-jawab sepenuhnya bagi pemberhasilan diri kita sendiri.

Mungkin hampir tidak ada perasaan yang lebih memerdekakan diri, daripada ketegasan untuk menjadi pemberhasil bagi kehidupan kita sendiri.

Cobalah yang selama ini Anda ragukan, atau akan lebih hebat lagi – lakukanlah yang selama ini Anda takuti.

Orang yang tidak mencoba karena takut gagal, lebih gagal daripada rekannya yang mencoba dan kemudian gagal.

Ujilah keberuntungan Anda. Cobalah melakukan sesuatu dengan lebih berani.

Bukankah sebetulnya,
banyak sekali yang akan Anda lakukan jika Anda lebih berani?

Tuhan Maha Adil. Dan Tuhan telah berjanji akan menyejahterakan dan membahagiakan hamba-Nya yang berupaya.

Tetapi mungkin muncul pertanyaan, …

Bagaimana jika Anda gagal? Coba lagi.
Bagaimana jika Anda masih gagal? Coba lagi.
Bagaimana jika Anda masih terus gagal? Coba lagi.

Eh! … nanti dulu, …
apakah tadi saya menambahkan penjelasan,
bahwa saat Anda mencoba lagi tadi itu,
Anda mencobanya dengan sikap yang lebih baik, dengan cara yang lebih tepat,
dan dengan niat yang lebih tulus?

Maaf ya? …

Mencoba lagi adalah melakukan lagi dengan lebih baik.

Dan bukan hanya sekedar mengulangi tindakan yang sudah jelas-jelas salah, yang tidak menghasilkan, dan yang hanya menjadikandiri kita kesal .

Mencoba lagi adalah melakukan lagi dengan lebih baik.

Maka,

Janganlah kita melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda.

Pribadi yang kuat, membangun nasib; pribadi yang lemah, menunggu keberuntungan.

Apakah engkau sedang menunggu pekerjaan yang lebih baik, sebelum engkau bekerja dengan sungguh-sungguh?

Apakah pekerjaan baik – pantas bagi orang yang tidak bersungguh-sungguh?

Ketahuilah, bahwa …

Sebagian dari kita sedang tidak sabar untuk membangun hasil-hasil yang super dalam pekerjaannya, tetapi sebagian lagi sedang tidak sabar untuk menghindari pekerjaan.

Bersabarlah engkau dalam sikap-sikap yang baik, dalam pergaulan yang baik, dan dalam pekerjaan yang baik.

Bersabarlah untuk hal-hal yang baik.

Dan, …

Rencanakanlah penggunaan dari usiamu.

Dia yang bisa berlaku tenang dalam karir dan kehidupan yang tanpa rencana, tidak bisa disebut sabar.
Dia hanya terbiasa tidak merasa gelisah dalam pelemahan hidupnya.

Tidak ada kesulitan yang lebih kuat daripada kegigihan.

Jiwa yang mengerti, tidak lagi menunggu,
karena ia terlalu sibuk menjadikan dirinya pantas menunggu sebesar-besarnya rezeki,

menunggu seindah-indahnya kebahagiaan,
dan menunggu setinggi-tingginya kemuliaan hidup.

Mudah-mudahan Tuhan mengindahkan waktu yang Anda gunakan untuk menunggu sampainya hadiah-hadiah terbaik bagi kejujuran dan kerja keras Anda.

Sumber: Mario Teguh Golden Point – SABAR, SAMPAI KAPAN?