TUHAN siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci?

Gunung-Mu yang Suci(Mzm 15:2-3a.3cd-4ab.5; Ul: 1a)

Tuhan siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci?

1. Yaitu orang yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil
dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya;
yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.

2. Yang tidak berbuat jahat terhadap teman,
dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang tidak memandang hina orang yang tercela,
tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang bertakwa.

3. Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba,
dan tidak menerima suap melawan orang yang bersalah.
Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.

Menuntut = Meminta + Kesungguhan | Mario Teguh

Pergaulan adalah tempat ditetapkannya standar.

Seorang muda yang bergaul dengan pribadi-pribadi yang santun dan bersemangat mewujudkan impian-impian besar mereka, akan menjadi orang muda yang berhasil tanpa harus menjadi tua, dan menjadi pribadi anggun tanpa harus dilahirkan dalam keluarga ningrat.

Sedangkan dia yang menyediakan matanya bagi pemandangan yang kusam norma – tidak akan mengenali kebaikan yang berada dalam jangkauannya.

Dia yang menyediakan telinganya bagi kata-kata rendah nan hasut – tidak akan mengerti anjuran-anjuran baik yang akan memuliakannya.

Dan dia yang menggerakkan tubuhnya mengikuti gerakan orang-orang yang tuna malu – akan menolak berjalan dengan cara yang akan meninggikan derajatnya.

Marilah kita tegas memelihara diri dari hal-hal yang tidak memuliakan, dan agar kita berfokus pada hal-hal yang membesarkan kehidupan.

Anda harus menetapkan standar kualitas untuk yang dapat Anda terima dalam karir dan kehidupan pribadi Anda.

Jika tidak, Anda akan sering diharuskan menerima apa adanya.

Padahal, …

Menerima apa adanya bukanlah sikap yang mewakili keberserahan kepada Tuhan.

Karena,

Mengupayakan tercapainya yang TERBAIK,
adalah sikap orang yang mensyukuri apa pun yang telah ada pada dirinya, UNTUK mencapai yang LEBIH BAIK
bagi dirinya, keluarganya, dan bagi sebanyak-mungkin orang lain.

Tidak ada orang yang lebih disia-siakan hidupnya, daripada dia yang diharuskan menerima apa adanya, saat yang lebih baik masih mungkin baginya.

Jika yang lebih baik bagimu – masih mungkin, mengapakah engkau berhenti pada yang cukup?

Janganlah engkau bersikap seperti rendah hati dan bersahaja, tetapi yang sebetulnya adalah topeng dari hati malas mu.

Engkau hanya akan mendapat yang kau tuntut.

Karena,

Jika engkau menuntut, engkau akan menambahkan kesungguhan pada permintaanmu.

Engkau akan merajinkan diri. Engkau akan mengisi waktumu dengan pekerjaan yang bernilai. Engkau akan menjadikan hubunganmu dengan orang lain sebagai kesempatan untuk menyampaikan keuntungan. Engkau akan menjadikan kehadiranmu sebagai pengindah perasaan orang lain.

Jika engkau bersungguh-sungguh mengupayakan yang terbaik, engkau akan mendapatkan yang terbaik.

Sehingga,

Engkau hanya akan mendapat yang kau tuntut.

Menuntut adalah meminta dengan kesungguhan yang penuh.

Maka, …

Jadilah pribadi yang pantas untuk menuntut yang terbaik.

Karena,

Dia yang menuntut yang terbaik, akan mendapatkan yang terbaik.

Tuntutlah dirimu..

Tuhanlah Gembalaku, Takkan Kekurangan Aku

Mazmur 23 – (PS 646)

Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang, dan menyegarkan daku.

Ia menuntun aku di jalan yang lurus, demi nama-Nya yang kudus. Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. Tongkat gembalaanmu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan segala lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh berlimpah.

Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hidupku. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

Setiap Orang Dipilih Untuk Tujuan Tertentu

Theo, anak usia delapan tahun, ingin sekali terpilih untuk terlibat dalam pertunjukan drama Natal di gerejanya. Setiap hari ia membicarakan keinginan itu kepada ibunya dengan bersemangat. Lalu tibalah waktunya hari pemilihan. Ibu mengantar Theo ke gereja dengan perasaan was-was; khawatir kalau sampai Theo tidak terpilih, ia pasti akan kecewa sekali. Sepulang dari gereja ternyata Theo tampak gembira. “Kamu terpilih, Nak?” tanya ibunya. “Iya, Bu,” jawab Theo. “Kata Kakak Guru Sekolah Minggu, saya terpilih untuk bertepuk tangan.”

Kita dipilih dalam peran sekecil apa pun tentunya dengan suatu tugas tertentu. Begitu juga ketika Tuhan memilih kita dalam peran-peran seperti yang kita punya sekarang ini—entah sebagai orangtua, suami, istri, pelajar, pejabat negara, anggota majelis di gereja, entah juga sebagai orang kaya, orang pandai, selebriti terkenal — pasti dengan suatu tugas tertentu. Tidak mungkin Tuhan secara kebetulan atau tanpa sengaja memberikan peran-peran itu kepada kita.

Oleh karena itu, apa pun peran kita sekarang ini, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: Apa yang Tuhan ingin kita lakukan dengan peran tersebut? Kalau kita adalah orangtua, Tuhan ingin kita menjadi orangtua seperti apa? Kalau kita adalah pejabat negara, Tuhan ingin kita menjadi pejabat seperti apa? Kalau kita adalah selebriti terkenal, Tuhan ingin kita menjadi selebriti seperti apa? Dan sebagainya.

Tuhan memilih kita sebagaimana kita ada sekarang dengan tujuan luhur.

Ayub Yahya – Renunganharian.net

TUHAN tidak bermain dadu untuk menentukan jalan hidup kita, percayalah semua baik, semua indah pada waktunya. “Garam” ada karea ada yang tawar, jika semua “garam”, maka garam tidak lagi dibutuhkan.
GBU