Lessons Learned dari Pendakian Gunung Gede

Sebelumnya saya sudah menulis tentang perjalanan saya ke Gunung Gede pada 24-26 Juni 2016. Kali ini saya mau menulis lagi tentang pendakian tersebut, tentang apa yang saya pelajari selama pendakian.

Pada pendakian Gunung Gede ini saya mendapatkan beberapa pelajaran, inspirasi, insight.

Pertama, tentang visi. Untuk memulai sesuatu kita butuh visi, kita butuh tau arah kemana kita berjalan, apa yang mau kita tuju. Visi ini senantiasa akan memberikan kita harapan dan ukuran, sudah seberapa dekat kita dengan tujuan kita, apakah kita masih on track atau tidak.

Di pendakian ini, tujuan kita adalah Surya Kencana, tempat dimana kita akan berkemah, yang memiliki sumber air bersih, padang yang indah dengan banyak tanaman edelweiss. Sejak awal pendakian kita sudah mengetahui dan sepakat akan hal ini, pula selama perjalanan kita bisa mengetahui kira-kira dimana posisi kita, di pos berapa, dan masih berapa lama menuju ke Surya Kencana. Setiap mencapai suatu pos kita tau bahwa kita berada pada jalur yang tepat dan semakin dekat dengan tujuan kita, hal ini memberikan kita motivasi untuk terus berjalan.

Kedua, tentang fokus pada apa yang ada di depan kita. Selama kita berjalan on track sesuai dengan tujuan yang sudah kita tetapkan, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan rintangan yang ada di depan, lakukan saja, jalani saja satu demi satu, selangkah demi selangkah.

Inspirasi ini saya dapat ketika perjalan mendaki, tidak sanggup rasanya jika kita melihat apa yang ada jauh di depan kita, tanjakan sejauh mata memandang. Baru melihat dan membayangkannya saja sudah lelah. Cara yang saya lakukan adalah dengan fokus pada apa yang ada di depan saya, naiki saja satu per satu, melangkah saja, yang penting ada progress, atur napas, ingat, ini bukan lomba lari 100 meter. Alihkan fokus, jangan biarkan kepala kita diisi “cape, pegal, lemas”, nikmati perjalanannya, nikmati udara segar, nikmati keindahan alam di sekitar, nikmati bercengkrama dan saling support dengan teman, penuhi dengan rasa syukur.

Nasehat serupa sering saya dengar ketika ada pertandingan badminton, pelatih atau komentator di TV sering bilang, “harus sabar, satu-satu”, kalau di badminton ini artinya pemain tidak perlu memikirkan kemenangan atau ketertinggalan dari lawan, fokus saja pada setiap rally, pastikan poin satu demi satu. Kali ini saya merasakan nasehat tersebut berguna juga untuk pendakian.

Tanjakan Gn Gede via Putri

Ketiga, tentang percaya diri dan kerendahan hati. This is true beauty.

Keempat, ini..

Misa Gn. Gede, 26 Jun 2016

Mereka lagi misa di sana. Bener, lagi misa, ada romonya. Dari tenda kami pun terdengar ketika mereka sedang bernyayi. Menurut info dari teman saya, mereka adalah orang-orang yang sedang menempuh pendidikan menjadi imam dari Jakarta. Kagum rasanya melihat kejadian ini.. *goosebumps*

Hal lain yang bisa saya berikan, sebelum mendaki sempatkan diri untuk berlatih cardio (treadmill) 1-2 minggu sebelumnya demi stamina, mendakilah dengan perasaan gembira, jangan ada keraguan, jangan ada ketakutan. Salah satu tujuan kita mendaki adalah untuk mengagumi keindahan karya TUHAN, Ia selalu menyertai kita. Lakukan persiapan dengan matang, jangan menganggap remeh apa yang akan kita hadapi. Positive, be nice, grateful😀

2 thoughts on “Lessons Learned dari Pendakian Gunung Gede

  1. Pingback: Gunung Gede via Putri, 24 – 26 Juni 2016 | Herwin's Blog

  2. Pingback: Pendakian Gunung Gede via Putri, 24 – 26 Juni 2016 | Herwin's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s