Tentang Si Anak “Sandal Jepit”, Keadilan?

Masih ingat dengan kasus seorang anak yang identik dengan sandal jepit di Palu atau yang sering ditampilkan sebagai “Anak Pencuri Sandal Jepit”?

Tanpa mempertimbangkan siapa yang melapor, sandal siapa, umur berapa, dengan status apa, dan apapun intrik yang dipakai dalam kasus ini, ijinkan saya berpikir secara sederhana.

Satu pertanyaan yang mendasar. Apakah mencuri itu baik?

Saya yakin, bagi orang yang memiliki etika dan berpikir secara logis, jawabannya pasti tidak.

Yang saya bingung dari respon masyarakat terhadap kasus ini, mengapa mereka hanya membela, hanya menuntut pembebasan anak itu? Mengapa yang dilihat hanya “anak” bukan “apa yang dilakukan anak”? Kenapa tidak menuntut hukuman dengan cara lain jika memang hukuman tersebut tidak pantas untuk anak dengan kondisi seperti itu? Kenapa tidak menghukum ayah atau ibunya karena mereka telah gagal mendidik anaknya?

Kalau hanya dibebaskan, lalu apa efek jeranya? Secara tidak langsung hal ini akan menimbulkan kesan bahwa “kalau masih anak-anak dan mencuri barang yang relatif murah itu tidak apa-apa”. Loh, jadi mencuri itu ada batasannya? Ada mencuri yang betul? Ada mencuri yang sah? Yang legal? Yang dapat dimaklumi?

Apakah tidak mungkin akan ada orang-orang tidak beretika akan mempekerjakan anak-anak untuk mencuri. Karena mereka berpikir “Tidak apa-apa kok anak-anak mencuri, toh dibebaskan.” Atau bahkan si anak sendiri yang akan memiliki pikiran seperti itu.

Anak-anak ini akan punya masa depan, entah jadi apa, bagaimana kalau mereka menduduki jabatan penting, mereka mengendap sikap ini dalam diri mereka, lalu? Giliran generasi berikutnya yang berterik-teriak, “Koruptor! Pencuri! Tikus!” Yang didukung sekarang, yang dijatuhkan nanti.

Pendidikan itu sangat penting. Sebuah bangsa yang ideal harus berisi orang-orang yang di-didik dengan benar, dan yang bisa mendidik tentunya orang yang terdidik, maka jangan kita putuskan apa yang benar, supaya semua bisa menjalankan perannya dengan baik, tidak menyeleweng, dan tidak menggangu keharmonisan. Pendidikan, pendidikan!

Note: penjelasan saya berlaku general, tidak membidik pada kasus anak itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s