Perokok Miskin Mental

Seperti kebanyakan hari lainnya, hari ini saya pulang naik metro mini 91, duduk di baris kedua dari belakang. Yang benar-benar berbeda kali ini, ada bapak-bapak yang menegur seorang perokok *applause*

Tapi sayangnya si bapak ini tampaknya udah frustasi sama perokok, jadi dia negur agak keras, alhasil si perokok ini jadi ngelunjak, tapi ya ga tau juga ya, kalau ditegur baik-baik apa bisa..

Bapak: GA BOLEH NGEROKOK!

Perokok: Kalau mau naik taksi aja..

Bapak: Tau kan ada peraturan ga boleh ngerokok di kendaraan umum?!

Prokok: Naik taksi.. *sok santai*

Bapak: Orang baru di Jakarta ya?! Orang udah ada aturan dari tahun [88/98/08] ga boleh ngerokok di kendaraan umum! Bukan masalah naik taksi… *kesel*

Perokok: *Tetep ngerokok, dari baunya..*

Saya ga gitu denger jelas semunya. Saya ga nengok ke belakang juga, tapi kayanya sih dia tetep ngerokok, soalnya masih keciuman bau knalpotnya asepnya..

Nah, dari kejadian ini, yang pertama saya salut buat si bapak.. Jarang-jarang ada orang yang negur perokok begitu, biasanya orang pasrah aja haknya untuk menghirup udara sehat dirampas (termasuk saya)..

Kedua, saya jadi mikir, ada tiga jenis kemiskinan yang saling berhubungan:

Tingkat Sangat Parah Parah Cukup Parah
Jenis Miskin Mental Miskin Ilmu Miskin Harta
Sumber Pendidikan Pembelajaran Pekerjaan

Miskin mental adalah dimana orang melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan karena dia TIDAK MAU TAHU. Bukan karena tidak tahu. Miskin jenis ini yang paling parah, karena penderitanya punya jalan pikir yang aneh, tingkah laku yang aneh, sok-sokan ala freeman a.k.a. preman.

Mereka akan berpikir dengan “Masa bodo”, “Akan kulakukan apa yang kumau, tak ada yang bisa halangi, apapun..”, “Aku bangga bisa melanggar peraturan, aku unik, aku jadi pusat perhatin, aku hebat..”, “Ga ada yang bisa ngajarin aku, aku benar, kalian bawel..”

Orang yang miskin mental biasanya miskin ilmu dan miskin harta. Orang itu ga bisa diajarin, karena udah merasa hebat duluan, jadi ga ada ilmu yang dia punya, karena ga ada ilmu, dia ga bisa menghasilkan apa-apa, jadilah dia juga miskin harta.

Miskin ilmu sendiri karena kurang belajar, melakukan sesuatu karena tidak tahu termasuk miskin ilmu, asalkan setelah diberi tahu dia tidak melakukannya lagi, dan miskin harta karena kurang kerja.

Menurut saya, Indonesia sangat butuh pendidikan untuk membentuk mental individu, yang pada akhirnya akan menjadi mental bangsa Indonesia secara keseluruhan. Saya yakin Indonesia akan menjadi sekelas Jepang jika mental individu per individunya terbentuk dengan baik, bahkan jauh melebihi Jepang karena kita punya banyak kelebihan. Tuhan memberkati Indonesia dengan melimpah-limpah, sayangnya hal ini malah disikapi dengan kemalasan.

Kita perlu dididik dengan keras untuk malu melakukan sesuatu yang melanggar hukum, malu untuk menganggu hak orang lain, malu jika makan di warteg tidak bayar(jangan bangga), tidak bangga karena “ditakuti” — biasanya sekaligus dibenci, tidak bangga tentang seberapa parah hal negatif yang pernah dilakukan, malu dan gelisah jika tidak melakukan hal berguna, dan masih banyak lagi.

So, what can I do? What can you do? What can we do?

May God Bless Indonesia!

3 thoughts on “Perokok Miskin Mental

  1. Hahaha.. ini juga sering gue alamin di 91 tuh sampe sekarang. Seenaknya ada orang suka ngerokok, paling sering yah supir atau keneknya. Kadang bahkan udah ada orang yang sampe nutup hidung, atau sampe batuk-batuk (mungkin pura-pura juga sih buat ngasi tauin), tapi tetap aja perokoknya bebal. Masalahnya di sini bukan cuma karena orang-orang ga mau nuntut hak juga sih, tapi ditambah juga pemerintahnya emang ga niat buat terapin aturan.

    Udah gitu biasanya posisi non-perokok itu lemah dan perokok cenderung lebih “kuat” karena perokok merasa punya hak juga buat ngerokok bebas. Mungkin karena otaknya lagi nge-fly juga gara-gara pengaruh nikotin, makanya ga peduli orang, pedulinya ama diri sendiri, sama kayak orang pake narkotik. Mungkin juga udah ada bibit kista kanker di otak bagian “kepeduliannya”, makanya ga ngerasa peduli lagi soalnya udah rusak. Kemaren aja ada kenek 91, masih kecil, mungkin umurnya sekitar 9-10 tahun, udah ngerokok. Tepuk tangan deh.

    Kalau ngeliat orang-orang kayak gini, jujur aja palingan gue cuma sumpah serapah dalam hati aja lah supaya mereka cepat didiagnosa kena kanker atau batuk-batuk berdarah, atau paling jelek cepat ke “surga” perokok. Jahat ga gue? :p

  2. Nah kalo supir sama kenek mendingan lah. Kadang mereka masih usaha buat buang tuh asep keluar *walaupun tetep berasa*. Kalo penumpang atau sebangsa kenek yang suka nebeng itu. Duduk di dalem trus ngerokok, asepnya ngebul di dalem bis.. *&@#*&(!

    Dari dulu gua bayangin, andai aja ada layanan pengaduan pake sms. “Metromini 91, nomor polisi B9999XX ada yang merokok, posisi sekarang di dekat Cafe Strawberry” terus tiba-tiba dateng polisi, diciduk. Hahah.

    9-10 tahun ngerokok.. :O
    Emang rokok lebih penting dari nasi sih buat mereka.
    Makan ga makan yang penting rokok.

  3. wah..hebat dengan tindakan itu bapak..hehe,meski bapak itu sampai terpancing emosinya karena kebebalan dari perokok tersebut.
    tapi kalau dipikir-pikir, kenapa ya malahan non-perokok yang merasa malu, dan menanggap perokok tersebut yang lebih berani?
    *berharap kan perokok tersebut yang mendapat malu.

    padahal (dari pengalaman yang sering di lihat / contoh cerita diatas), perokok saat ditegur terlihat sangat santai dan menanggapinya bukan dengan marah. malahan jadi sebaliknya, emosi si non-perokok yang terpancing.

    http://semestahidayah.wordpress.com/2010/09/06/kepada-anda-yang-bukan-perokok/
    mengutip suatu cerita sedikit hehe. mungkin cerita ini bisa menambahkan keyakinan kita untuk bisa memberi diri sedikit keberanian, karena ‘masih ada’ kemungkinan perokok yang tertegur oleh non-perokok bisa sadar akan kebebasan bagi non-perokok untuk menghirup udara yang sepantasnya diterima.
    itung-itung sebagai salah satu sarana untuk membentuk mental individu yang lebih baik.^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s