Pemasok Unilever Bakar Hutan Kalimantan

Kita semua pasti tau kan Unilever. Perusahaan yang sangat besar dibalik merek-merek yang terkenal di dunia. Sabun Dove, Vaseline, Pond’s, Lux, Sunlilk, CloseUp, dll. Ternyata Unilever menyumbang perusakan hutan serta lahan gambut Indonesia, ekosistem terakhir di muka bumi yang merupakan cadangan karbon yang sangat besar dan merupakan habitat orangutan serta satwa langka lainnya, menurut Greenpeace.

Padahal Unilever adalah salah satu pengguna minyak kelapa sawit terbesar di dunia merupakan pemrakarsa utama Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO), organisasi industri yang didirikan dengan tujuan memastikan produksi minyak kelapa sawit yang ramah lingkungan, ternyata tidak melakukan apapun untuk mengehentikan para pemasok merusak hutan serta lahan gambut. Kecuali Unilever membersihkan segenap operasinya orangutan akan punah lebih cepat, kita kehilangan kesempatan bertindak mencegah bencana iklim,” ujar Sue Connor dari Greenpeace Internasional di Jakarta.

Bayangkan, hutan yang sedang gencar-gencarnya dilestarikan untuk mencegah global warming dan usaha-usaha dari segala organisasi pecinta lingkungan untuk melindungi satwa yang terancam punah (terkhusus Orang Utan) malah dihancurkan begitu saja demi sabun dan shampo.

Kerusakan hutan Indonesia terjadi lebih pesat dibandingkan negara pemilik hutan lainnya di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di muka bumi.

Lahan gambut yang dalam di kawasan ini ketika dikeringkan dan kemudian dibakar dalam proses mempersiapkan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah yang besar. Kawasan lahan gambut ini bertanggung jawab atas 4% dari jumlah emisi gas rumah kaca dunia.

Menurut Pusat Perlindungan Orang-Utan (Centre for Orangutan Protection), setidaknya 1.500 orangutan mati di tahun 2006 akibat serangan yang disengaja oleh pekerja perkebunan.

Sejak tahun 1900, jumlah orangutan Sumatera diperkirakan turun 91%, dengan angka terbesar di akhir abad ke-20.

Sejak tahun 1990, 28 juta hektar hutan Indonesia – dengan ukuran sama dengan Ekuador – telah dihancurkan, sebagian besar akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Permintaan akan minyak kelapa sawit diperkirakan akan meningkat berlipat ganda; dua kali lipat pada tahun 2030 dan tiga kali pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2000.

Sumber: Greenpeace
Editor: Herwin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s